Desa Pesisir di Rembang Dikenalkan Teknologi Pengolah Ikan

Senin, 12 Agustus 2019 | 17:04 WIB
Ketua Pelaksana Program, Rikah sedang mengajari warga Desa Pasarbanggi Kecamatan Rembang cara menggunakan mesin pengasapan ikan, baeberapa waktu lalu. (Foto: mataairradio.com)
Ketua Pelaksana Program, Rikah sedang mengajari warga Desa Pasarbanggi Kecamatan Rembang cara menggunakan mesin pengasapan ikan, baeberapa waktu lalu. (Foto: mataairradio.com)

REMBANG, mataairradio.com – Desa Pasarbanggi yang merupakan salah satu desa pesisir di Kabupaten Rembang masyarakatnya dikenalkan dengan teknologi pengolah ikan yakni alat pengasapan ikan.

Hal itu merupakan Program kerjasama dengan Kementerian Riset Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) yang difasilitasi oleh Kampus YPPI Rembang yakni salah satu perguruan tinggi di kabupaten ini.

Kurang lebih ada 10 orang yang dilatih dan diajari cara melakukan pengawetan ikan dengan menggunakan teknologi pengasap ikan.

Ketua pelaksana kegiatan Rikah menjelaskan, alasan pihaknya mengenalkan inovasi mesin pengasapan ikan itu karena selama ini masyarakat pesisir mayoritas masih dengan cara konvensional atau tradisional dalam melakukan pengasapan ikan.

Menurutnya, pengasapan ikan dengan cara tradisional kurang higienis, sehingga mengurangi kulitas produk.

“Kita ajari mereka menggunakan inovasi mesin pengasap ikan. Modelnya mirip oven dan multi fungsi. Selain higienis alat ini mampu mempertahankan aroma khas ikan asap. Bahan bakarnya dari tempurung kelapa,” katanya.

Ia mengatakan, mesin ini didesain dan dirancang secara manual alias tidak produksi pabrik. Desainernya adalah anggota tim dengan dibantu oleh mitra pengembang.

Rikah menambahkan, teknologi ini mampu menampung ikan yang diasap sebanyak lima loyang. Jika dibandingkan dengan cara konvensional ada selisih dua loyang.

“Gambaranya kalau manual hanya hitungan tiga loyang. Tapi mesin ini hampir tiga kali lipat. Atau dapat menampung langsung lima loyang dalam satu tahap pengasapan,” terangnya.

Selain diklaim dapat menampung banyak ikan dalam sekali pengasapan Dia menyatakan, dari segi tekstur juga beda. Sebab cara konvensional posisi ikan yang diasap langsung bersentuhan dengan bara api.

“Sebaliknya, mesin ini tidak bersetuhan langsung dengan bara api, namun asap yang dihasilkan serupa,” imbuhnya kepada mataairradio.com.

Dia menilai, hal ini tentu akan berdampak positif bagi pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) setempat. Karena mereka tidak sekadar dikenalkan inovasi produk.

Namun mereka secara gratis diberikan mesinnya. Bahkan dari sisa tempurung kelapa yang dipakai sebagai bahan bakar masih mempunyai nilai jual.

Arang tempurung kelapa dapat dijual atau dimanfaatkan sebagai bahan pembuat obat nyamuk, sedangkan limbah cair dari proses pengasapan dapat dijadikan pupuk cair.

“Arang tempurung kelapa dapat dijual atau dimanfaatkan sebagai bahan pembuat obat nyamuk.

Kata ibu-ibu disana ada pengepul untuk membuat obat nyamuk. Selain itu sisa yang menjadi air pengasapan dapat dijadikan pupuk cair. Jadi tidak ada limbah,” tegasnya.

Penulis: Mukhammad Fadlil
Editor: Mukhammad Fadlil

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan