RSUD Rembang Overload, Demam Berdarah Jadi KLB

Selasa, 19 Januari 2016 | 18:22 WIB
Sejumlah pasien dari kalangan anak-anak tampak menjalani perawatan di RSUD dr R Soetrasno Rembang, Selasa (19/1/2016) pagi. (Foto: Pujianto)

Sejumlah pasien dari kalangan anak-anak tampak menjalani perawatan di RSUD dr R Soetrasno Rembang, Selasa (19/1/2016) pagi. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Penyakit demam berdarah dengue menjadi kejadian luar biasa (KLB) setidaknya di Rumah Sakit Umum Daerah dr R Soetrasno Rembang.

Hal itu karena pihak RSUD sudah merawat 93 pasien DBD, hanya dalam kurun 19 hari, sejak 1 Januari lalu.

Humas RSUD dr R Soetrasno Rembang Giri Saputro, Selasa (19/1/2016) pagi mengungkapkan, secara keseluruhan, hanya ada 9 tempat tidur pasien yang tersisa dari total 258 tempat tidur.

“Sisa 9 itu pun berada di ruang kebidanan, sehingga kami mesti menata ulang ruang agar semua pasien tertampung,” ujarnya.

Ia membenarkan rumah sakit overload, salah satunya karena peningkatan insidensi penyakit demam berdarah dengue. Namun Giri menepis kabar yang menyebut rumah sakit menolak pasien.

“Keluarga pasien memilih mencari rumah sakit lain karena melihat RSUD tampak penuh. Ini kami akan tata lagi, sehingga paling tidak ada 18 tempat tidur baru lah,” tandasnya.

Dokter spesialis anak di RSUD dr R Soetrasno Mayasari Dewi membenarkan terjadinya lonjakan pasien DBD. Dari catatan petugas administrasinya, 2 dari 93 pasien yang dirawat karena terserang DBD, meninggal dunia.

Namun sebagaimana Giri, ia membantah rumah sakit sempat menolak pasien.

“Tidak ada kata kami menolak pasien. Tapi ya begini,” katanya sembari menunjukkan bangsal perawatan yang penuh pasien.

Maya menjelaskan, keluarga pasien terlebih dahulu diberikan pengertian berdasarkan keadaan rumah sakit pada saat ini.

“Jika pasien mau dirawat di UGD untuk sementara waktu sambil menunggu adanya ruang atau tempat tidur yang kosong, maka rumah sakit akan menangani sebaik mungkin,” tandasnya.

Namun sebagian dari keluarga pasien tidak mau menunggu, sehingga mencari rumah sakit lain. Mengenai penderita yang sampai meninggal dunia, dokter Maya menyebut ada sejumlah sebab.

“Bisa karena komplikasi atau keganasan virus, atau bisa karena terlambat dibawa ke rumah sakit,” tegasnya.

Normei, petugas administrasi di Ruang Flamboyon RSUD dr R Soetrasno mencatat, pasien yang dirawat akibat DBD berusia mulai 1-14 tahun.

“Rata-rata langsung masuk ke rumah sakit, sehingga bukan rujukan dari puskesmas,” bebernya.

Berdasarkan pantauan, ada sedikitnya lima pasien yang semula hendak meminta perawatan di rumah sakit daerah, akhirnya justru mengurungkan, karena kondisi semua ruangan yang hampir semuanya penuh.

Kondisi serupa terpantau terjadi di hampir semua puskesmas di Rembang.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan