Debit Air Menipis, BUMDes Parikesit Pamotan Lakukan Reboisasi

Senin, 28 Januari 2019 | 20:48 WIB

Sebagian Warga di Kecamatan Pamotan melakukan aksi tanam pohon atau reboisasi, pada Sabtu (26/1/2019). (Foto: mataairradio.com)

 

PAMOTAN, mataairradio.com – Sebagian Warga di Kecamatan Pamotan melakukan aksi tanam pohon atau reboisasi, pada Sabtu (26/1/2019) pagi. Hal itu dilakukan setelah diketahui debit air di daerah itu kian menipis.

Agus Langgeng Ketua Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Parikesit mengaku, bahwa musim kemarau tahun 2018 kemarin banyak sumber mata air yang mati, sehingga muncul ide untuk menanam pohon.

Pihaknya yakin degan gerakan menanam dua ribu pohon bantuan dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah dapat menghidupkan mata air yang mati.

Dua ribu bibit pohon tersebut, terdiri dari beberapa jenis bibit pohon, seperti pohon bambu, sengon, tanjung, pacira, dan kendal serta beberapa tanaman jenis obat-obatan.

Selain penanaman pohon warga juga digerakkan untuk membersihkan lingkungan, mengingat musim penghujan sarang nyamuk menjamur dimana-mana.

“Kita juga ramai-ramai membersihkan lingkungan, karena musim seperti sekarang rawan penyakit demam berdarah akibat nyamuk. Apalagi informasinya, kasus DBD di Rembang meningkat,” ungkapnya.

Gerakan serentak ini didukung oleh semua elemen masyarakat dan juga semua pemangku kepentingan seperti Camat Pamotan, Kepala Desa Pamotan, Komandan Rayon Militer (Danramil) Pamotan, Kapolsek Pamotan, dan beberapa instansi pendidikan.

Agus berharap gerakan ini sebagai stimulus awal, agar masyarakat lebih peduli lagi terhadap lingkungan baik itu kelestariannya maupun kebersihannya. Sehingga masyarakat tidak lagi mengeluh kekeringan di musim kemarau atau kebanjiran di musim penghujan.

Penanaman secara simbolik dilakukan di Desa Pamotan, selanjutnya warga menanam di lingkungannya masing-masing, karena bibit pohon sudah dibagikan sehari sebelumnya.

“Ya kemarin kita sudah membagikan bibit ke 13 RW di Desa Pamotan,” pungkasnya.

Ahmad Hadiq salah seorang Perangkat Desa Pamotan mengaku senang dengan adanya kegiatan tersebut karena bersifat positif, serta bisa bermanfaat untuk anak cucu nanti.

“Apalagi banyak sumber mata air yang mati ketika musim kemarau, karena di Pamotan pohon-pohon pengikat air jumlahnya berkurang sangat banyak,” tandasnya.

 

 

Penulis: Mohamad Siroju MUnir
Editor: Mukhammad Fadlil

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan