DBD Mengancam Rembang, Ketahui Ini untuk Anak

Friday, 4 December 2015 | 19:16 WIB
Pelayanan terhadap pasien anak di RSUD dr R Soetrasno Rembang. (Foto: suaramerdeka.com)

Pelayanan terhadap pasien anak di RSUD dr R Soetrasno Rembang. (Foto: suaramerdeka.com)

 

REMBANG, mataairradio.com – Kasus penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Rembang mulai kembali mengancam.

Sejumlah anak yang terjangkiti DBD dilaporkan terlambat dibawa ke puskesmas atau rumah sakit, sehingga nyawanya tidak terselamatkan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang Ali Syofii mengungkapkan, selama ini ada kekeliruan di sebagian masyarakat soal fase jangkitan DBD.

“Sebagian orang tua kerap terkecoh oleh kondisi anak yang sempat demam tinggi, tapi kemudian panasnya turun,” katanya.

Menurutnya, sebagian orang tua yang menganggap anaknya demam biasa, akan merasa senang begitu mendapati panas buah hatinya turun.

“Padahal pada kasus DBD, 4-7 hari setelah anak demam tinggi dan turun panas, justru menjadi saat ancaman besar terjadi, seperti pendarahan spontan, syok, dan sampai meninggal dunia,” tandasnya.

Pihak Dinas Kesehatan mengharap kepada para orang tua agar cepat memeriksakan anaknya yang demam tinggi ke puskesmas atau rumah sakit terdekat atau dokter kepercayaan keluarga.

“Orang tua mesti sabar dengan penanganan tim medis guna mendeteksi positif DBD,” terangnya.

Ali mengungkapkan, sering kali orang tua meminta pulang paksa untuk anaknya yang sempat dirawat inap karena demam, lantaran mendapati panas yang sudah turun.

“Padahal, tim medis perlu mengontrol perkembangan demam anak dari waktu ke waktu, setidaknya selama 7 hari itu,” katanya.

Situasi kasus DBD di Rembang, menurut Ali, sempat tinggi di triwulan pertama 2015. Namun tren kasusnya menjadi menurun pada triwulan kedua dan puncak penurunannya terjadi pada triwulan ketiga.

“Tetapi pada triwulan terakhir tahun ini, tingkat kasus DBD melonjak lagi seiring pancaroba dan berlangsungnya musim penghujan. Pemberantasan sarang nyamuk atau PSN perlu digalakkan,” tegasnya.

Nugroho, warga Sumbergirang Kecamatan Lasem mengaku mendengar dua orang anak tetangganya harus dilarikan ke rumah sakit karena diduga terjangkit demam berdarah.

“Di Dukuh Muragan Desa Tuyuhan Kecamatan Pancur, kabarnya malah ada dua anak yang meninggal diduga akibat DBD,” bebernya.

Menurut catatan pihak Dinas Kesehatan Rembang, jumlah kasus DBD sepanjang Januari hingga 2 Desember 2015, mencapai 544 kasus, dimana 6 penderita di antaranya sampai meninggal dunia. Data tersebut dihimpun oleh dinas kesehatan dari puskesmas dan RSUD Rembang.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan