Dana BUMDes Kasreman Diduga Diselewengkan

Senin, 3 Juni 2019 | 23:55 WIB

Rapat laporan keuangan BUMDes Kasreman, pada Sabtu (1/6/2019) malam, di Aula Balai Desa Kasreman. (Foto: mataairradio.com)

 

REMBANG, mataairradio.com – Dana milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) “Cipta Mandiri” Desa Kasreman Kecamatan Rembang, diduga diselewengkan oleh sala satu oknum anggota BUMDes tersebut.

Hal itu terungkap saat rapat laporan keuangan, pada Sabtu (1/6/2019) malam, di Aula Balai Desa setempat.

BUMDes “Cipta Mandiri” merupakan badan usaha milik desa yang mengelola suplai air bersih ke PT. Malindo Feedmill di desa itu.

Badan usaha tersebut mendapatkan komisi sebesar Rp60 ribu setiap rit penjualan air, dari Warga Kasreman.

M. Fuad Taufik Ketua BUMDes “Cipta Mandiri” mengatakan, berdasarkan catatannya, suplai air bersih ke pihak PT Malindo Feedmill rata-rata per hari mencapai 12 rit.

“Selama April 2018, hingga Maret 2019 pemasukan sudah sebesar Rp212,760,000, dari total jumlah ritnya sebanyak 3.546 rit,” ungkapnya saat memberikan laporan.

Setelah laporan keuangan oleh Ketua BUMDes selesai, Ruslan salah satu warga setempat yang ikut hadir dalam rapat mengungkapkan ada indikasi penyelewengan dana.

Ruslan yang juga merupakan salah satu warga penyuplai air bersih mencatat, bahwa warga yang menjual air bersih ke PT Malindo Feedmill rata-rata per hari mencapai 15 rit.

Dia menanyakan, dana dari uang komisi Rp60 ribu yang tiga rit per hari, selama April 2018-Maret 2019.

“Catatan saya rata-rata per hari 15 rit. Itu (Data BUMDes, red.) kok hanya 12 rit, trus yang tiga rit kemana?,” ujarnya.

Setelah dikonfirmasi, Ketua BUMDes justru mengaku tidak tahu menahu soal itu. Dia mengatakan, data yang dicatat pihaknya berdasarkan laporan dari Taufik salah satu anggotanya yang bertugas mencatat jual beli air bersih ke PT Malindo Feedmill.

“Data sudah sesuai dengan laporan Pak Taufik (Anggota BUMDes yang bertugas mencatat di lapangan). Tanya langsung saja, ada orangnya,” kata Fuad, Ketua BUMDes “Cipta Mandiri” Desa Kasreman.

Taufik yang turut hadir di forum laporan keuangan BUMDes Kasreman itu menjawab, dirinya mengaku tidak mencatat pemasukan dana dari uang komisi Rp60 ribu yang tiga rit per hari, selama April 2018-Maret 2019.

Dia berdalih, bahwa pembayaran terhadap penjualan air bersih yang tiga rit itu, dia sendiri yang mendanainya, sehingga tidak memberikan uang komisi ke BUMDes.

“Yang tiga rit kan saya modali sendiri,” tandasnya.

Hal itu tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku di BUMDes “Cipta Mandiri” Desa Kasreman.

Karena menyalahi aturan, warga yang ikut hadir di dalam rapat itu pun meminta supaya Taufik mengembalikan seluruh dana komisi yang tidak dimasukkan ke BUMDes.

Terutama Ruslan, dirinya tidak terima dan mengancam akan menempuh jalur hukum, apabila Taufik tidak mengembalikan uang tersebut.

“Kalau tidak bisa mengembalikan (uang, red.) ya terpaksa jalur hukum,” tegasnya.

Taufik pun langsung menyanggah, dirinya tidak dapat mengembalikan uang tersebut, lantaran sudah habis dan mempersilakan jika memang dirinya dilaporkan ke pihak yang berwajib.

“Kembalikan itu uang dari mana, uangnya suda habis. Silakan saja kalau mau lapor polisi,” tuturnya.

Sementara itu, Karyono Kepala Desa Kasreman yang juga ikut hadir dalam rapat laporan keuangan itu, secara blak-blakan menjelaskan, bahwa dirinya juga ikut menerima uang yang seharusnya masuk ke Kas BUMDes “Cipta Mandiri” Kasreman.

Namun, dia mengaku siap untuk mengembalikan uang yang sudah diterimanya dari Taufik.

“Terus terang saja, saya juga menerima uang itu dari Pak Taufik. Pak Taufik kasihan kepada saya. Tapi saya siap mengembalikan uang itu,” terangnya.

Uang dari dana komisi sebesar Rp60 ribu per tiga rit selama 12 bulan, yang tidak disetorkan ke Kas BUMDes tersebut, kurang lebih senilai Rp50 juta lebih.

 

Penulis: Mukhammad Fadlil
Editor: Mukhammad Fadlil

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan