Cantrang Dilarang, Omzet Penjualan Kopi Rumahan Merosot

Rabu, 3 Januari 2018 | 18:48 WIB

Kopi cangkir. (Foto dikutip dari koran muria)

 

REMBANG, mataairradio.com – Omzet penjualan kopi rumahan di Kabupaten Rembang merosot akibat kebijakan Pemerintah yang melarang cantrang.

Kapal yang semula order kopi buat perbekalan selama melaut menangkap, kini tidak lagi memesan.

Yopi Arifvianto, pengelola usaha kopi merek Cangkir di Desa Sumberjo Kecamatan Rembang mengaku omzet penjualannya turun antara 20-30 persen dari biasanya.

“Satu kapal biasanya order 10-20 kilo untuk kebutuhan kopi selama satu bulan. Karena kapal besar itu berhenti melaut, jadi terasa dampaknya,” katanya.

Sementara tiap hari, rata-rata ada tiga sampai tujuh kapal yang memesan kopi olahannya.

Ia pun harus memeras otak untuk mengalihkan pemasaran produk kopinya menjadi lebih banyak ke luar kota dan secara “online”.

Yopi menuturkan, kopi olahannya biasanya dibeli secara langsung oleh pengurus perbekalan.

Untungnya, mereka membeli kopi itu secara tunai, sehingga tidak ada tagihan, ketika jaring cantrang dilarang oleh Pemerintah.

Dari keluhan pelaku usaha lain yang didengarnya, penjualan sayuran dan kebutuhan pokok yang biasa dibeli untuk perbekalan melaut kapal cantrang, juga merosot drastis.

“Penjual sayuran dan bahan pokok pun mengeluhkan menurunnya omzet karena tidak lagi melautnya kapal besar,” katanya.

Menurut dia, kopi olahannya sebenarnya masih bisa dinikmati untuk perbekalan bagi awak kapal mini purseseine.

“Namun karena melautnya singkat, hanya satu atau dua minggu, tingkat konsumsinya pun hanya 1-2 kilo,” katanya.

Berdasarkan pantauan di TPI Tasikagung Rembang pada Rabu (3/1/2017) pagi, tidak ada aktivitas.

Ribuan buruh bongkar yang biasanya memadati tempat pelelangan dan dermaga, kini tampak sepi.

Jasa persewaan basket atau keranjang ikan juga lumpuh. Basket-basket itu kini tampak tertumpuk di rumah atau tempat pemilik persewaan.

Sementara ini, para anak buah kapal cantrang, pun menganggur.

Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan melarang penggunaan cantrang, payang, dan dogol guna mengendalikan penangkapan ikan.

Alat tangkap ini juga dinilai merusak kelestarian laut.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan