Cabe Rawit Terpuruk Bawang Merah Melambung di Rembang

Kamis, 19 Mei 2016 | 13:13 WIB
Pedagang bawang merah di Pasar Rembang mengungkapkan kenaikan harga komoditas tersebut dalam dua pekan belakangan. (Foto: Pujianto)

Pedagang bawang merah di Pasar Rembang mengungkapkan kenaikan harga komoditas tersebut dalam dua pekan belakangan. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Harga cabai rawit di tingkat petani di Kabupaten Rembang terpuruk di kisaran Rp5.000-Rp.6000 per kilogram dalam satu bulan terakhir.

Akibatnya, sebagian petani enggan merawat lagi tanaman cabainya, padahal rata-rata baru empat kali petik, sedangkan cabai rawit paling sedikit 10 kali petik.

Jarwanto, petani cabai rawit di Desa Kumendung Kecamatan Rembang mengaku, cabai rawit tetap dipetik sedapatnya, karena jika mempekerjakan buruh tani, hasilnya tak sebanding.

“Kalau bayar orang, sehari Rp40.000. Dapatnya paling 10 kilo per orang. Belum bayar sarapan dan makannya, sehingga tidak sebanding. Ya dipetik sendiri sedikit-sedikit,” ujarnya.

Dengan harga cabai rawit yang Rp5.000 per kilogram, ia berhitung, hasil panennya hanya akan cukup untuk balik modal. Ia tidak tahu penyebab terpuruknya harga cabai rawit.

“Saya memetik itu sepuluh hari sekali. 4 kali menjual hanya laku Rp5.000-6.000 per kilo. Kalau harganya begini terus, ya paling cukup untuk balik modal saja,” tegasnya.

Sementara itu, harga bawang merah di pasaran di Kabupaten Rembang justru sudah selama dua pekan ini melambung mencapai Rp40.000 per kilo.

Menurut seorang pedagang di Pasar Kota Rembang, Juwari, kenaikan harga bawang merah dipicu oleh persediaan yang tidak sesuai dengan jumlah permintaan.

“Pasokan bawang merah dari pengepul maupun petani tidak sebanyak sebelumnya,” terangnya.

Akibat kenaikan harga bawang merah, pedagang belum merasakan sebab ommzet masih sama dengan sebelum terjadi kenaikan.

“Namun, banyak pembeli dan pengecer yang mengeluhkan soal harga bawang merah,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan