BPBD Rembang Kritik Dunia Usaha Cueki Kekeringan

Senin, 17 Agustus 2015 | 17:37 WIB
Ilustrasi bantuan air (Foto: antarajateng.com)

Ilustrasi bantuan air (Foto: antarajateng.com)

 
REMBANG, mataairradio.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rembang melontarkan kritik terhadap dunia usaha di daerah ini lantaran masih cuek terhadap bencana kekeringan. Hingga Senin (17/8/2015) ini, baru perusahaan jamu di Semarang, yang justru peduli kekeringan di Rembang.

Kepala Seksi Logistik dan Kedaruratan BPBD Rembang Ahmad Makruf menganggap belum perlu berkirim surat kepada dunia usaha agar turut serta dalam mengatasi bencana kekeringan. Sebab menurut dia, pengusaha semestinya tergerak sendiri.

“Apalagi, dunia usaha di Rembang ini kan banyak. Sulit kalau mesti dibuatkan surat. Tapi kami ini berharap sekali pada PMI (Palang Merah Indonesia), agar bisa membantu menangani kekeringan dengan dana yang dihimpun dari masyarakat,” ujarnya kepada mataairradio.

Bencana kekeringan di Rembang, kini sudah melanda 11 dari 14 kecamatan. Hanya Sarang, Gunem, dan Sluke, yang sejauh ini belum sampai usul bantuan air bersih.

“Jumlah desa yang kekeringan pun telah bertambah menjadi 48 desa. Kecamatan Kota Rembang yang awalnya belum, kini sudah ada satu desa yang usul bantuan air bersih; Desa Pasarbanggi,” ungkapnya.

BPBD memprediksi, kekeringan parah akan segera melanda wilayah Kecamatan Kaliori. Hal itu menyusul segera habisnya debit air Embung Banyukuwung yang selama ini jadi tumpuan pasokan air bersih bagi masyarakat di daerah tersebut.

“Hasil koordinasi kami dengan PDAM, mulai September nanti, air dari Embung Sudo (Banyukuwung, red.) sudah tidak bisa diproduksi. Debitnya habis,” terangnya.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Rembang Suharso menambahkan, penanganan bencana kekeringan masih mengandalkan penyaluran bantuan air bersih. Sedangkan, penanganan yang bersifat jangka panjang seperti pembangunan embung dan cek dam, baru sebatas perencanaan.

Dia kembali mengingatkan, musim kemarau tahun ini akan berlangsung cukup panjang, setidaknya hingga akhir tahun. Kemarau ekstrem terjadi akibat El Nino.

“Masyarakat kami minta agar lebih hemat mengonsumsi air bersih. (Status darurat kekeringan untuk Rembang) Masih belum,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan