Bengkuang Rembang Mulai Bisa Tembus Pabrik Kosmetik

Minggu, 28 Juni 2015 | 14:57 WIB
Bengkuang dari Desa Sendangagung Kecamatan Pamotan. (Foto: Pujianto)

Bengkuang dari Desa Sendangagung Kecamatan Pamotan. (Foto: Pujianto)


REMBANG, mataairradio.com –
Komoditas bengkuang dari Desa Sendangagung Kecamatan Pamotan mulai bisa menembus pabrik kosmetik, meski belum berlangsung secara kemitraan tiap kali panen.

“Pembelian dari pabrik masih bersifat sporadis alias tidak tentu. Pihak pabrik yang pernah turun ke petani berasal dari industri kosmetik,” kata Ali Murtopo, salah seorang petani bengkuang di Desa Sendangagung.

Tetapi menurut Ali, pembeliannya tidak banyak. Setelahnya pun, baik pihak pabrik maupun petani, tidak terlibat lagi komunikasi intens.

Apalagi bagi petani, jarak ke pabrik di Semarang cukup jauh, sedangkan harganya tidak banyak terpaut. Dampaknya petani menjadi memilih menjual saja hasil panen ke pasar tradisional.

“Harganya nggak jauh beda kalau dibawa ke pabrik. Jadi dibawa ke pasar-pasar seperti Pati dan Kudus, selain pasaran dalam kabupaten. Kadang sampai Jakarta juga,” katanya.

Disinggung mengenai kemungkinan mengolah bengkuang menjadi jajanan lain, petani di Sendangagung belum berpikir. Dia pernah mendengar bengkuang dipakai untuk isi jajanan sejenis lumpia di Bogor.

“Tetapi di desa kami belum pernah ada pelatihan membuat makanan olahan berbasis bengkuang. Jika ada mungkin akan banyak yang berminat,” tandasnya.

Janadi, perangkat desa di Sendangagung mengakui, penghasilan dari menanam bengkuang lebih baik ketimbang jagung dan ketela.

Di desanya terdapat 30 hektare lahan bengkuang yang dikembangkan oleh kira-kira 400an keluarga petani.

Hingga Minggu (28/6/2015) ini, masih ada lima persen bengkuang yang belum dipanen. Janadi juga membenarkan, ada sebagian hasil panen yang dijual ke pabrik.

“Yang bisa masuk pabrik biasanya yang permukaan buahnya halus dan dikemas dalam waring (karung berjaring, red.),” sebutnya.

Janadi yang seorang petani bengkuang mengaku terakhir kali menjual komoditas itu dengan harga Rp30.000. Tetapi belakangan harganya tinggal Rp10ribu hingga Rp15.000 per ikat.

“Musim bengkuang biasanya berlangsung selama empat bulan atau sejak Februari hingga Mei,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan