Belasan Perusahaan Tambang di Rembang Berhenti Operasi

Minggu, 31 Juli 2016 | 22:41 WIB
Armada pengangkut material tambang tertahan di kawasan sekitar Pos Lalu Lintas di Desa Karas Kecamatan Sedan lantaran Jembatan Sidorejo retak sehingga dilarang dilintasi kendaraan berbeban di atas 10 ton, Rabu (15/6/2016) pagi. (Foto: Pujianto)

Armada pengangkut material tambang tertahan di kawasan sekitar Pos Lalu Lintas di Desa Karas Kecamatan Sedan lantaran Jembatan Sidorejo retak sehingga dilarang dilintasi kendaraan berbeban di atas 10 ton, Rabu (15/6/2016) pagi. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Belasan perusahaan pengolah hasil tambang yang berada di wilayah Kecamatan Sedan dan Sale saat ini terpaksa berhenti beroperasi.

Perusahaan itu adalah Silika Maju Bersama, CV NF, CV Wahyu, UD Dwi Putra, CV Dwi Karya, CV Waringin Kurung, CV Berkah Dewata, CV Rudina, CV Kurnia, CV Bio Alam Indo, CV AMP, UD Bio, UD Putra, PT Omya Indonesia.

Jembatan Palan di ruas Sedan-Pamotan yang selama ini menjadi jalur utama distribusi hasil olahan perusahaan tersebut saat ini masih proses pengerjaan.

Sementara jalur alternatif di ruas Sedan-Pandangan kini juga ditutup untuk kendaraan dengan bobot muatan di atas 10 ton karena jembatan di wilayah Desa Sidorejo retak.

Petugas Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Rembang berjaga di Pertigaan Karas untuk mengusir tronton atau trailer yang berusaha masuk ke Jembatan Sidorejo.

Ketua Asosiasi Pengusaha Tambang (Aspenta) Kabupaten Rembang, Moh Badri mengatakan hanya sebagian kecil perusahaan pengolah hasil tambang yang tetap beroperasi.

“Mereka yang masih beroperasi itu adalah yang mengirim barang hasil tambang menuju Surabaya,” bebernya, Minggu (31/7/2016).

Truk-truk dengan tujuan Surabaya bisa melalui rute Sedan-Sale-Jatirogo-Bojonegoro untuk mengirim barang, tetapi perusahaan yang mengirim barang dengan tujuan Semarang, Solo, Bandung, dan kota-kota di Jawa Barat, terpaksa berhenti.

Menurut Badri, satu-satunya jalur alternatif yang tidak terlalu merugikan mereka sebenarnya adalah Ruas Sedan-Pandangan yang melintasi Jembatan Sidorejo.

“Kami sudah menghadap Pak Bupati, mempertanyakan mengapa tronton tidak boleh melintas di Sedan-Pandangan. Padahal zaman dulu boleh dan katanya ruas itu menjadi akses kendaraan tambang,” paparnya.

Ia menyebutkan, atas kondisi itu ratusan pekerja di sejumlah perusahaan pengolah hasil tambang saat ini menganggur seiring larangan tronton dan trailer melintas di Jembatan Sidorejo, Sedan.

“Rata-rata setiap perusahaan sedikitnya memiliki 8 pekerja. Jumlah pekerja yang terdampak dan menganggur lebih dari seratus orang,” katanya.

Pihaknya berharap agar khusus tronton boleh melintas di Jembatan Sidorejo lantaran bobot maksimal tronton hanya 35 ton dan jauh di bawah bobot muatan dari trailer.

“Jika trailer tidak boleh melintas di Jembatan Sidorejo, maka kami berharap agar tronton dibolehkan,” harapnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan