BBM Turun: Minibus Ragu, Angkudes Ogah Pangkas Tarif

Rabu, 30 Desember 2015 | 18:22 WIB
Angkutan minibus tampak mengantre penumpang di Terminal Eks Stasiun Rembang, Rabu (30/12/2015) pagi. (Foto: Mukhammad Fadlil)

Angkutan minibus tampak mengantre penumpang di Terminal Eks Stasiun Rembang, Rabu (30/12/2015) pagi. (Foto: Mukhammad Fadlil)

 

REMBANG, mataairradio.com – Penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dan solar per 5 Januari mendatang, belum pasti disertai pemangkasan tarif angkutan umum di Kabupaten Rembang.

Padahal harga solar akan turun cukup lumayan dari Rp6.700 menjadi Rp5.950 per liter.

Kurnadi, salah satu sopir minibus jurusan Rembang-Lasem mengaku mungkin akan menurunkan tarif bagi penumpang angkutannya. Namun soal potensi besaran pemangkasan tarif, ia belum bisa menyebutkan.

“Sebenarnya kami masih ragu menurunkan tarif karena saat ini jumlah penumpang juga kian sepi,” terangnya kepada reporter mataairradio.

Hendra, sopir angkutan perdesaan jurusan Rembang-Pamotan mengaku enggan memangkas tarif, meski harga premium turun dari Rp7.300 jadi Rp7.150 per liter.

“Penurunan harga bensin tidak signifikan. Jika harga premium turun Rp1.000, mungkin kami akan menurunkan tarif,” jelasnya.

Keengganan awak angkutan untuk menaikkan tarif, menurutnya, juga karena kondisi sepinya penumpang.

“Tiap kali ada penurunan harga BBM, nyaris tidak ada pengaruhnya terhadap tingkat penumpang,” tegasnya.

Dari pengamatan reporter mataairradio, jumlah angkutan minibus terpantau ramai di Terminal Bekas Stasiun Rembang, meski sepi penumpangnya.

Namun, untuk angkutan perdesaan, tak seramai biasanya. Diduga, awak angkutan berangsur gulung tikar karena penumpang kian sepi.

 

Penulis: Mukhammad Fadlil
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan