Sikapi Isu BBM, Serikat Pekerja Transpor Rembang Rapatkan Barisan

Minggu, 31 Agustus 2014 | 18:52 WIB

Jasmani, Ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia Rembang. (Foto:Pujianto)

LASEM, MataAirRadio.net – Serikat Pekerja Transpor Indonesia Rembang, Minggu (31/8) pagi merapatkan barisan menyikapi isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Mereka yang umumnya para sopir truk hasil lasem ini mengemasnya sekaligus dalam acara pergantian pengurus SPTI Rembang periode lima tahunan.

Sejumlah perbincangan mengemuka di kalangan anggota SPTI. Mulai dari pemenuhan hak karyawan hingga kenaikan upah pada saat subsidi BBM dipangkas atau ketika harga bahan bakar minyak naik. Persoalan jaminan kesehatan pekerja juga turut dibahas di pertemuan yang berlangsung tiga jam sejak jam 10.

Jasmani, Ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia Rembang yang menaungi SPTI mengaku akan memfasilitasi aspirasi para pekerja transpor terkait isu BBM yang belakangan santer. Menurutnya, hak karyawan seperti upah harus direvisi, jika harga BBM naik karena inflasi pasti tinggi.

SPSI Rembang menganggap, kenaikan harga BBM akan sulit dihindari. Subsidi yang diberikan negara untuk BBM sudah ratusan triliun rupiah. Pihaknya tidak akan protes terhadap kenaikan harga BBM. Namun dampak ikutannya perlu diperhatikan Pemerintah.

Menurut Jasmani, inflasi atau meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus, perlu ditekan Pemerintah begitu BBM naik. Inflasi memengaruhi distribusi pendapatan. Karena itu, besarnya upah mesti direvisi. Soal besarannya, Jasmani menyebut harus sesuai dengan inflasi.

Dia menambahkan, dampak kenaikan BBM paling dekat diketahui pada kenaikan harga sembako. Kesejahteraan masyarakat tidak boleh diabaikan. Jasmani menyebut, upah minimum Rembang yang saat ini Rp985.000 per bulan, harus dikaji ulang jika harga BBM naik.

Pengamat politik ekonomi Ichsanuddin Noorsy memiliki prediksi perhitungan dampak yang ditimbulkan dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Bila terjadi kenaikan harga BBM, masyarakat perlu mendapatkan kenaikan pendapatan pula agar tidak tercekik secara ekonomi.

Dari itung-itungan pengamat dari Universitas Indonesia ini, kalau harga BBM naik Rp1.000 per liter atau menjadi Rp7.500, masyarakat butuh kenaikan pendapatan sebesar Rp250.000. Hingga Minggu (31/8) petang, isu kenaikan harga BBM masih dalam kajian Pemerintah. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan