Batu Menipis, Perajin Cobek Tantang Bahaya

Selasa, 1 Maret 2016 | 22:21 WIB
Kerajinan perkakas berbahan batu seperti cobek dan lumpang yang diproduksi oleh sebagian warga di Warugunung Kecamatan Pancur. (Foto: Pujianto)

Kerajinan perkakas berbahan batu seperti cobek dan lumpang yang diproduksi oleh sebagian warga di Warugunung Kecamatan Pancur. (Foto: Pujianto)

 

PANCUR, mataairradio.com – Para perajin cobek berbahan batu di Desa Warugunung Kecamatan Pancur nekat menantang alam guna mencari bahan baku agar tetap bisa berproduksi.

Padahal, mereka mesti mencari batu di sungai dan bukit, sehingga rawan banjir dan longsor ketika turun hujan.

Saryono, seorang perajin cobek batu di desa itu, Selasa (1/3/2016) pagi mengaku kadang terpaksa mencari batu dengan menantang bahaya, karena kini bahan baku kerajinannya itu semakin menipis.

“Kami mesti bersaing dengan para penambang batu yang kini kian marak,” terangnya kepada reporter mataairradio.

Ia juga mengaku sudah beberapa hari terakhir ini memilih mencari bahan baku di sungai dekat rumah.

Soal pemasaran, ia mengaku tidak kesulitan karena ada tengkulak dari Kecamatan Pamotan yang datang mengambil barang hasil produksinya.

Sampai dengan Maret 2016, jumlah perajin cobek batu di Desa Warugunung masih sekitar 10 orang.

Di tengah invasi peralatan dapur modern, cobek dari bahan batu karya warga desa itu, masih laku Rp30.000 per unit.

Samuri, perajin cobek batu lainnya mengaku tidak sampai menggali bukit guna mendapatkan bahan baku. Namun diakuinya, sebagian perajin nekat naik ke perbukitan di Gunung Bugel.

“Memang ada sisi bahaya ketika kami berburu batu sampai gunung, tetapi warga rata-rata tak ceroboh,” tandasnya.

Soal ketersediaan bahan baku, Samuri mengakui sudah mulai sulit didapat. Jumlah warga yang menggeluti kerajinan cobek batu juga sudah tidak sebanyak dulu yang sampai belasan orang.

“Saat ini, sebagian perajin tidak menjadikan produksi cobek batu sebagai pekerjaan utama. Hanya sampingan,” tegasnya.

Budiono, pedagang cobek batu di Pasar Lasem mengaku biasa menjual cobek dari Warugunung, bahkan dari Tulungagung, Jawa Timur.

Meski ada saja yang membeli cobek batu, tetapi tingkat penjualannya sudah tidak seramai dulu.

Selain bukan tergolong barang kebutuhan pokok, sebagian masyarakat kini telah banyak berpindah menggunakan blender guna menghaluskan bumbu dapur.

“Dalam sebulan kemarin saja, saya hanya mampu menjual satu unit cobek batu,” pungkasnya.

 

Penulis: Mukhammad Fadlil
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan