Batik Malaysia Diwaspadai di Pasar Bebas ASEAN

Rabu, 6 Januari 2016 | 14:00 WIB
Para pembatik sedang berkarya di salah satu rumah produksi batik tulis lasem, Ningrat, baru-baru ini. (Foto: Mukhammad Fadlil)

Para pembatik sedang berkarya di salah satu rumah produksi batik tulis lasem, Ningrat, baru-baru ini. (Foto: Mukhammad Fadlil)

 

REMBANG, mataairradio.com – Para perajin batik tulis lasem mewaspadai invasi batik dari Malaysia di era pasar bebas ASEAN atau yang lebih dikenal sebagai Masyarakat Ekonomi ASEAN atau MEA.

Kewaspadaan itu karena Malaysia baru saja mengukuhkan batik sebagai warisan budaya mereka.

Ketua Klaster Batik Tulis Lasem Rifai, Rabu (6/1/2016) pagi mengaku menjadikan MEA sebagai peluang, meski memunculkan persaingan yang makin ketat.

Peluang itu menurutnya akan ditangkap dengan daya saing batik tulis melalui inovasi dan kreasi baik dari sisi motif, produksi, dan marketing.

“Sebelum MEA pun mestinya kami sudah harus terus inovatif dan kreatif baik dari sisi seni, produksi, dan marketing,” ujarnya kepada reporter radio ini.

Selain mewaspadai invasi batik Malaysia, para perajin batik tulis lasem menurut Rifai, kini juga berhati-hati dengan masuknya industri batik cap atau printing dari China.

“Kami berharap agar para perajin batik tulis lasem tidak tergoda bermain batik printing, karena justru akan menurunkan daya saing. Kalau main di printing, kita kalah segalanya dari China,” tandasnya.

Perajin batik tulis yang memiliki gerai penjualan di Desa Tuyuhan Kecamatan Pancur ini menegaskan, keunggulan batik tulis lasem adalah pada nilai khas dan kerajinan tangan yang pekerjanya akan sulit ditemui di negara lain.

“Daya saing dan kekhasan tersebut perlu terus dipertahankan,” tegasnya.

Hawin Wilopo, salah seorang perajin batik tulis lasem di Kelurahan Leteh Kecamatan Rembang mengaku meningkatkan kualitas batik baik dari segi bahan, warna, maupun desain untuk menghadapi era pasar bebas ASEAN.

“Di zaman MEA ini, kami juga perlu meningkatan pelayanan,” ujarnya.

Menurutnya, sejak pasar bebas ASEAN berlaku, para perajin mesti mengasah kemampuan komunikasinya. Paling tidak, agar calon konsumen dari negara lain di Asia Tenggara, mudah terjelaskan tentang batik tulis lasem.

“Kami yang tergabung dalam Koperasi Perajin Batik Tulis Lasem berencana menggelar kursus bahasa inggris bagi para perajin batik,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan