Banting Setir, Petani Sukses Tangkarkan Murai Batu

Kamis, 29 September 2016 | 23:01 WIB
Bambang Suratman (57) meloloh anakan murai batu tangkarannya di kediamannya di RT 6 RW 1 Desa Pasucen Kecamatan Gunem, Kamis (29/9/2016) pagi. (Foto: Pujianto)

Bambang Suratman (57) meloloh anakan murai batu tangkarannya di kediamannya di RT 6 RW 1 Desa Pasucen Kecamatan Gunem, Kamis (29/9/2016) pagi. (Foto: Pujianto)

 

GUNEM, mataairradio.com – Kicau burung bersahut-sahutan di rumah sederhana di desa yang terkenal sebagai kampung kerbau. Ada belasan sangkar burung yang digantung di rumah milik Bambang Suratman.

Pria paruh baya berusia 57 tahun ini populer sebagai penangkar burung murai batu di Desa Pasucen Kecamatan Gunem. Bambang tampak tak seperti penangkar profesional memang. Hal itu karena dia lebih dikenal sebagai petani oleh warga sekitarnya.

Namun, sejak mulai menangkar murai batu tahun 2011, kehidupannya berubah. Pendapatannya tidak lagi hanya bergantung dari hasil bertani, tetapi justru lebih banyak ditopang dari hasil menangkar burung berkicau indah itu.

Dari tangannya, sudah puluhan juta rupiah tercetak setiap bulannya. Ia memiliki 50 ekor lebih murai batu. Setiap minggu, ia menjual rata-rata dua sampai lima ekor murai dengan harga mulai Rp2,5-3 juta per ekor.

“Awalnya saya punya dua pasang jalak putih. Tapi 1,5 tahun nggak berkembang. Akhirnya dengan modal utangan Rp15 juta, saya belikan tiga pasang murai. Tapi ya itu, karena saya minim pengalaman, di awal-awal saya rugi sekitar Rp20 juta karena banyak mati,” tuturnya mengisahkan.

Sempat terpuruk, tidak menyurutkan niat Bambang menekuni penangkaran murai batu. Dari kegagalannya, ia mulai serius menekuni usahanya. Anakan murai betina, ditahannya dari penawaran pembeli. Upayanya itu berhasil, karena ia menjadi punya banyak indukan murai.

“Dari menahan anakan betina sehingga jadi indukan itulah, penangkaran saya mulai berkembang. Sampai kini punya 16 kandang dengan total 50 ekor lebih murai. Saya pun mendapat pinjaman lunak Rp60 juta dari PT Semen Indonesia untuk membesarkan lagi usaha ini,” terangnya.

Mengenai pemasaran, Bambang melakukannya secara sederhana. Anaknya yang bekerja di Jakarta sering menjadi kurir murai pesanan mereka yang meminatinya. Penjualan berkisar dari wilayah Pulau Jawa.

“Yang beli, sebagian datang sendiri dan sebagian lagi dengan cara janjian. Kalau di Semarang ketemuan di kawasan Stasiun Tawang, tetapi kalau di Jakarta ketemuan di Stasiun Senen. Anak saya kebetulan kerja di daerah Senen. Seminggu kalau ramai bisa jual 2-5 ekor,” bebernya.

Menurutnya, menangkar murai gampang-gampang susah. Gampangnya, karena untuk memasarkan hampir tidak kerepotan. Harga jualnya pun menjanjikan. Tetapi susahnya kalau murai terserang penyakit. Dua penyakit yaitu mencret dan sesak nafas, lumayan sulit diatasi.

“Biasanya kalau cuaca dari panas berganti secara ekstrem ke hujan atau sebaliknya, mencret dan sesak nafas gampang terjadi. Saya belum bisa menemukan obatnya atau cara ampuh mengatasinya. Tetapi sejauh ini, belum sampai terjadi kasus yang signifikan,” jelasnya.

Sementara itu terkait dengan pakan, Bambang mengakui menuai tantangan. Pasalnya, kroto dan jangkrik yang menjadi menu kesukaan murai, mulai sulit didapat dan kalau pun tersedia, harganya cukup tinggi.

“Jangkrik saja per sak sekarang sudah Rp120.000. Itu dua kilogram. Itu hanya cukup untuk stok pakan selama dua hari. Tetapi yang masih bisa untung lumayan karena harga jual murai masih tinggi. Biasanya saya jual ketika sudah umur minimal satu bulan,” ujarnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan