Balita Penderita Hidrosefalus di Lasem Butuh Bantuan

Selasa, 24 April 2018 | 21:19 WIB

Febriona Lacita Gava Putri, balita penderita hidrosefalus saat digendong Kakeknya, Kusno Edi Santoso di kediamannya pada, Selasa (23/4/2018) siang. (Foto: Mukhammad Fadlil)

 
LASEM, mataairradio.com – Seorang balita dari keluarga miskin di Desa Dorokandang Kecamatan Lasem menderita hidrosefalus atau pembesaran rongga kepala akibat kelebihan cairan otak.

Keluarga dari bocah bernama Febriona Lacita Gava Putri butuh bantuan, karena sudah enam bulan tidak mampu berobat. Terakhir, balita 14 bulan mendapat perawatan medis, November 2017.

Anak pertama dari pasangan Mustari dan Erliza Safitri, kini kondisinya makin memprihatinkan. Belum bisa melihat. Padahal, penyakit hidrosefalus sudah diketahui sejak dari kandungan sang ibu.

Kusno Edi Santoso, kakek bocah ini menuturkan, kelahiran cucunya melalui operasi cesar karena dokter bilang berbahaya jika lahir normal. Satu bulan setelah lahir saja, bayi ini kembali dioperasi.

Sejak operasi itu, menurut Kusno, cucunya mesti diperiksa kesehatannya tiap bulan di RSUP dr Kariadi Semarang. Namun karena keterbatasan biaya, sudah enam bulan belum diperiksa lagi.

“Sejak dalam kandungan sudah dibilangi oleh dokter, katanya kandungan anak saya kena virus. Disarankan lahirnya dengan operasi (cesar). Setelah lahir pun, baru sebulan, bayi dioperasi dipasang selang,” katanya.

Saat mataairradio menyambangi kediaman orang tua balita hidrosefalus, Selasa (24/4/2018) pagi, sang ibu tak mau bertutur seputar anaknya. Kakek si balita yang diminta memberikan keterangan.

Atas derita yang dialami cucunya, Kusno, berharap ada bantuan untuk pengobatan balita tersebut. Pihak desa diakuinya sudah membantu mengakses kartu Indonesia sehat (KIS) bagi sang cucu.

Namun, biaya yang cukup banyak, adalah untuk wira-wiri berobat rutin ke Semarang. Ayah dari balita hidrosefalus ini adalah pekerja pada bengkel dinamo di daerah Lasem. Bayarannya pas-pasan.

“Kalau berobat bisa pakai KIS, tapi wira-wirinya itu. Ke Semarang kan butuh biaya transportasi dan menunggu juga,” katanya.

Kusno menambahkan, selama ini, sudah ada pihak yang datang membantu. Di antaranya, BMT BUS Lasem dan komunitas warganet dari Info Seputar Rembang. Namun pemeriksaan masih berlanjut.

Jika kontrol dilakukan rutin tiap bulan, kondisi Febriona Lacita diprediksi akan membaik, sehingga pemeriksaan menjadi cukup dua bulan sekali. Untuk sembuh total, perlu observasi dari dokter.

 

Penulis: Mukhammad Fadlil
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan