Balai Arkeologi Yogyakarta Lindungi Dua Situs Tanjungan

Kamis, 24 Juli 2014 | 15:04 WIB
Peneliti  dari balar Yogjakarta menemukan kubur tempayan berisi tulang belulang manusia yang kini disebut Situs Tanjungan. (Foto:Rif)

Peneliti dari Balar Yogyakarta menemukan kubur tempayan berisi tulang belulang manusia di Desa Tanjungan. (Foto:Rif)

REMBANG, MataAirRadio.net – Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta menghentikan ekskavasi di Desa Tanjungan Kecamatan Kragan, Kamis (24/7) pagi. 10 orang peneliti dari Balar menyatakan bahwa dua situs di Desa Tanjungan merupakan bagian peninggalan dari zaman logam awal dan dilindungi.

Ketua Tim Peneliti Situs Tanjungan dari Balar Yogyakarta Gunadi Kasnowihardjo menjelaskan, keputusan untuk melindungi situs diambil, setelah melalui penelitian selama lebih dari seminggu sejak Rabu 16 Juli lalu. Ada beragam temuan penting yang menguatkan kesejarahan Situs Tanjungan.

Peneliti menemukan kubur tempayan berisi tulang belulang manusia, lebih dari satu individu karena ditemukan lebih dari satu pasang. Tempayan ini dari bahan tanah liat yang dibakar alias gerabah. Gunadi menegaskan, situs di utara Jalur Pantura, dekat SPBU Tanjungan, ditetapkan sebagai Situs Tanjungan I.

Selain kubur tempayan, Gunadi juga mengungkapkan, pihaknya menemukan kawasan yang diduga kuat sebagai lokasi permukiman masyarakat pra-sejarah di zaman logam awal. Kali ini, jaraknya sekitar satu kilometer, sebelah selatan Jalur Pantura atau ditetapkan sebagai Situs Tanjungan II.

Di titik ini, peneliti menemukan fragmen atau pecahan artefak terkait permukiman seperti perkakas sehari-hari masyarakat kala itu. Menurut Gunadi, yang paling mencolok adalah temuan kelenting atau perkakas terbuat dari gerabah untuk membawa air dari sumur.

Kelenting ini ditemukan dari aktivitas galian sedalam 120 centimeter. Selain itu, tim peneliti juga menemukan artefak berupa paku besi berbentuk persegi dengan panjang 40 centimeter. Soal apa fungsinya, Gunadi belum bisa memastikan. Yang jelas merupakan bagian dari aktivitas sehari-hari masyarakat kala itu.

Para peneliti merekomendasikan kepada Balai Arkeologi Yogyarakrta agar menyewa lahan, tempat bermukimnya situs. Syukur, jika ada donatur yang bisa membantu membebaskan tanah tersebut untuk kepentingan penelitian dan kelak untuk objek wisata budaya.

Lahan Situs Tanjungan I berada di atas tanah milik Agus Dwiyono, seorang pegawai Kecamatan Kragan, sedangkan Situs Tanjungan II berada di atas tanah milik Suhadi, Kaur Kesra Desa Tanjungan. Tim Peneliti Balar membawa sampel tulang rangka manusia, pecahan gerabah, serta artefak lain seperti paku besi dan bandul jala terakota ke Yogyakarta, untuk diteliti lebih lanjut. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan