Awak Angkutan di Rembang Ogah Turunkan Tarif

Minggu, 4 Januari 2015 | 19:24 WIB
Angkutan di Eks Stasiun Rembang (Foto:Pujianto)

Angkutan di Eks Stasiun Rembang (Foto:Pujianto)

REMBANG, mataairradio.com – Awak angkutan di wilayah Rembang ogah menurunkan tarif, meski Pemerintah memutuskan menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium atau RON 88 dari Rp8.500 menjadi Rp7.600 per liter mulai 1 Januari 2015.

Mashadi, sopir angkutan perdesaan jurusan Rembang-Pamotan mengaku tidak menurunkan tarif alias masih tetap Rp6.000.

Dia berdalih, harga premium hanya turun Rp900 per liter, sementara tingkat penumpang semakin sepi.

“Sebelum kenaikan harga premium menjadi Rp8.500 per liter kemarin, tarif angkutan Rembang-Pamotan hanya Rp5.000,” ungkapnya.

Dia pun mengaku, tarif angkutan mungkin kembali ke harga semula, jika harga premium kembali Rp6.500 per liter.

Sopir yang merupakan warga Desa Padaran Kecamatan Rembang ini menegaskan, dulunya jumlah angkutan perdesaan dengan trayek Rembang-Pamotan mencapai belasan, kini tinggal tujuh yang aktif.

“Itu pun tidak pernah sampai penuh penumpangnya. Baru 5-6 penumpang, sudah harus berangkat. Gantian,” katanya.

Selain menurunkan harga premium dan mencabut subsidi untuk RON 88, Pemerintah juga memangkas harga solar dari Rp7.500 menjadi Rp7.250 per liter.

Namun bedanya, Pemerintah masih memberikan subsidi untuk solar.

Kurnadi, sopir bus jurusan Rembang-Lasem-Pamotan pun mengaku tidak menurunkan tarif atau masih Rp8.000-Rp10.000 per sekali jalan.

“Tidak ada penumpang yang protes, meski tarifnya ajek. Umumnya, penumpang dianggap memahami, sepinya trayek,” katanya.

Sopir yang merupakan warga Desa Jombok Kecamatan Pancur ini mengaku, kerap kali banting setir menjadi petani atau sopir truk tebu agar tetap mampu mencukupi kebutuhan keluarga.

“Keberadaan angkutan umum kian tergeser oleh keberadaan kendaraan pribadi,” tandasnya.

Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Rembang Suyono mengaku sudah langsung melakukan pemantauan tarif angkutan, begitu harga BBM baik premium maupun solar, turun.

“Tarif angkutan yang saat ini sedang berjalan, masih dalam taraf wajar, meskipun belum turun dari harga sebelumnya,” katanya.

Pihaknya mengaku belum perlu sampai menegur, apalagi sopir dan penumpang sudah saling bisa kompromi.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan