Ampedes Beber Solih Tersangka Korupsi Bengkok Desa

Senin, 20 April 2015 | 18:27 WIB
Warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Desa Sidorejo (Ampedes) saat menggelar aksi di depan balai desa setempat, belum lama ini. (Foto: mataairradio.com)

Warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Desa Sidorejo (Ampedes) saat menggelar aksi di depan balai desa setempat, belum lama ini. (Foto: mataairradio.com)

 

SEDAN, mataairradio.com – Aliansi Masyarakat Peduli Desa Sidorejo (Ampedes) Kecamatan Sedan membeber status tersangka yang kini ditetapkan oleh polisi atas mantan kades mereka, Solih, dalam kasus dugaan korupsi tanah bengkok desa.

Koordinator Ampedes Mun’im kepada mataairradio mengungkapkan, kondisi desa tidak bergejolak atas terbebernya status tersangka bagi Solih. Desanya disebut aman-aman saja. Dia juga mengaku sudah membaca hasil audit dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Jawa Tengah.

“BPKP menyebut kerugian negara akibat penyalahgunaan tanah bengkok Desa Sidorejo itu mencapai Rp398,5 juta. Mungkin karena penanganan kasus ini lama, Ampedes sempat tak dianggap serius oleh warga dalam mengawal kasus tukar guling tanah bengkok tersebut,” tandasnya.

Mun’im juga membeberkan bahwa Solih dijerat dengan Pasal 3 Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP yang ancaman hukumannya paling singkat dua tahun penjara.

Warga menurut Mun’im menganggap polisi bekerja sesuai harapan. Meski proses penanganan berlangsung lama, tetapi nyatanya, kasus ini berjalan. Dia mengaku hampir selalu kontak dengan pihak kepolisian guna menanyakan kelanjutan kasus yang sejak awal dilaporkan oleh Ampedes.

“Kami juga mengaku bersyukur karena 43 saksi yang dipanggil oleh pihak kepolisian, datang secara kooperatif. Kini kami menunggu kesiapan berkas kasus ini dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Rembang,” tegasnya.

Mun’im menambahkan, polisi menyita barang bukti berupa uang Rp163 juta, hasil penjualan tanah kaplingan bengkok desa. Seperti diketahui, bengkok yang ditukar guling mestinya dikapling menjadi 22 petak. Tetapi oleh Solih yang kala itu menjabat sebagai kades, dikapling menjadi 30 petak.

Uang hasil penjualan tanah kapling itu, sebagian digunakan oleh Solih. Menurut catatan yang dihimpun oleh mataairradio, uang hasil penjualan kaplingan itu mencapai lebih dari Rp700 juta.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan