Akulturasi di Lasem Magnet Kunjungan Wisatawan

Monday, 26 December 2016 | 21:09 WIB
Kampung Pechinan di Desa Karangturi Kecamatan Lasem meniadi salah satu magnet yang menarik minat kunjungan wisatawan. (Foto: Mukhammad Fadlil)

Kampung Pechinan di Desa Karangturi Kecamatan Lasem meniadi salah satu magnet yang menarik minat kunjungan wisatawan. (Foto: Mukhammad Fadlil)

 

LASEM, mataairradio.com – Akulturasi atau percampuran kebudayaan antaretnis Jawa dan Tionghoa di Kecamatan Lasem menjadi magnet bagi wisatawan untuk mengunjungi wilayah ini, beberapa waktu terakhir.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Dinbudparpora) Kabupaten Rembang Suyono mengatakan, akulturasi antaretnis di Lasem, antara lain tampak dari batik tulis bermotif burung hong.

“Ada juga pos jaga yang bangunannya mirip kelenteng. Secara kehidupan bermasyarakat, antara etnis Jawa dan Tionghoa juga hidup rukun dan berdampingan. Bagi wisatawan, hal yang demikian menarik mereka,” terangnya.

Apalagi secara bangunan di kampung pechinan seperti di Desa Karangturi, bangunan khas Tionghoa masih berdiri, seolah tak lapuk oleh zaman sekaligus mengekalkan simbol toleransi di antara etnis di wilayah itu.

“Lasem ini begitu kaya akan sejarah. Mulai dari bangunan, peninggalan benda-benda sejarah, kebudayaan, dan akulturasi. Kami mengusulkan Pemkab agar menjadikan Lasem sebagai Kota Cagar Budaya,” paparnya.

Pada saat berbincang dengan mataairradio.com baru-baru ini, Suyono menyatakan belum memiliki catatan khusus mengenai angka kunjungan wisatawan ke Lasem, tetapi tingkat wisata ke daerah ini, berkecenderungan meningkat.

“Dilihat dari bergeliatnya wisata di Lasem ditandai dengan bermunculannya homestay, maka ada perkembangan kunjungan wisata di sana. Ada pula perkembangan aktivitas masyarakat dengan menggelar diskusi-diskusi soal Lasem,” katanya.

Zaim Ahmad, salah seorang tokoh agama Islam di Lasem menuturkan,akulturasi antaretnis turut dipengaruhi oleh berlangsungnya Perang Sabil atau Perang Kuning pada tahun 1700-an.

Perang dimulai ketika selesai salat jumat, di depan Masjid Jami Lasem dan dipimpin oleh Panglima Perang yang bernama Kiai Ali Baidlowi atau panggilan jawanya Joko Tirto.

Saat itu Lasem merupakan kadipaten. Adipatinya seorang keturunan China Oei Ing Kiat. Sementara tokoh penggerak masyarakat dari komunitas Jawa, adalah Raden Panji Margono.

“Akulturasi yang terjadi di Lasem saat ini merupakan warisan dari para pendahulu. Hal ini bermula ketika perang antara masyarakat pribumi melawan kompeni Belanda di era tahun 1700-an,” tuturnya.

Menurut Gus Zaim, perang tersebut mempersatukan semua etnik untuk membebaskan wilayah Lasem dari penjajah Belanda, sehingga interaksi sosial masyarakat antaretnis masih terjalin baik hingga kini.

 

Penulis: Mukhammad Fadlil
Editor: Pujianto




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan