Aktivis Lingkungan Rembang Ancam Gugat SIR

Kamis, 16 Januari 2014 | 16:28 WIB
Demo menolak pabrik semen beberapa waktu yang lalu.

Demonstrasi menolak pabrik semen di Rembang beberapa waktu yang lalu.

REMBANG, MataAirRadio.net – Aktivis lingkungan yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) Rembang mengancam akan menggugat PT Semen Indonesia Rembang (SIR) ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).

Gugatan akan dilayangkan jika PT SIR tetap melanjutkan rencana penambangan bahan semen di kawasan Cekungan Air Tanah Watu Putih. Lokasi calon tambang itu terungkap saat Sidang Komisi Amdal (analisis mengenai dampak lingkungan) oleh pihak PT SIR di Aula Hotel Puri Indah Rembang, Rabu (15/1) kemarin.

Salah satu aktivis JMPPK Rembang Jumadi mengatakan, Cekungan Watu Putih sesuai Perda Nomor 14 Tahun 2011 tentang RTRW adalah kawasan lindung geologi. Jika penambangan di cekungan itu dilakukan, maka terjadi pelanggaran. JMPPK serius menempuh gugatan ke level PTUN untuk penyelamatan kawasan imbuhan air Watu Putih.

Selain dinilai melanggar larangan mengekploitasi Cekungan Watu Putih, Jumadi berpendapat, lokasi bakal pabrik semen milik PT SIR atau Semen Indonesia Rembang pun dianggap menyalahi.

Dia menyebut pabrik semen sebagai industri besar. Menurut Jumadi, Perda Kabupaten Rembang mengatur kawasan industri besar berada di Kecamatan Sluke, terbatas di wilayah Desa Sendangmulyo.

Sementara sebagian pabrik semen milik PT SIR akan berada di wilayah Desa Blimbing atau di luar kawasan. Meski ada pula tapak di wilayah Desa Sendangmulyo, namun JMPPK menganggap ada potensi pelanggaran dalam hal ini. Jumadi menyarankan PT SIR mengurungkan saja rencana penambangan dan pendirian pabrik semen, mumpung belum banyak biaya yang dikeluarkan.

Dikonfirmasi mengenai ancaman JMPPK Rembang, General Affair PT Semen Indonesia Rembang Iswahyudi menyebut protes dari JMPPK itu sah-sah saja. Yang jelas pihaknya mengklaim sudah melangkah sesuai aturan normatif.

Setelah sosialisasi Amdal kemarin (15/1), pihak SIR akan melanjutkannya dengan pengurusan izin mendirikan bangunan atau IMB. Terkait dengan lokasi pabrik semen di wilayah Blimbing dan Sendangmulyo Kecamatan Sluke, itu sudah dikomunikasikan kepada Pemkab Rembang. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



3 comments
  1. lurah

    Januari 17, 2014 at 12:24 am

    si Handoko ini kayak kurang kerjaan dan kelebihan uang saja… ingat han harta kekayaan dan uang itu gunakan sebesar-besarnya bagi kehidupan dan masa depan lingkungan.. bukan untuk hal-hal yang menggelikan dan membingungkan rayat banyak..

    Reply
  2. Sinyo ( pemerhati lingkungan)

    Januari 26, 2014 at 7:56 pm

    Maaf ya…..! aku heran… setelah Pasca Operasi pabrik nanti apa yang akan di tinggalkan untuk orang-orang di lokasi tersebut ….. hanya sebuah bencana….., Banjir bila musim hujan…., kekeringan bila kemarau dan musnah semua biota dan perubahan ekosistem dan yang untung siapa….., tentu sudah pada tahu kan…! mereka yang mau mendirikan pabrik semen..! masyarakat ……. No……, hanya tangisan penyesalan saja. makanya mumpung belum terlanjur, hentikan saja tidak usah dilanjutkan pabriknya, yang rugi orang rembang sendiri…..! ingat itu Ya…! matur suwun

    Reply
  3. sinyo

    Januari 26, 2014 at 8:16 pm

    Maaf … ya ! mau ikut komentar
    Yang untung itu hanya yang punya usaha…..! sedang yang dirugikn adalah masyarakat sekitar Tapak dan meluas ke semua masyarakat Rembang, Ingatttt….. Gunung adalah merupakan daerah Tangkapan hujan…!
    bila gunung di habiskan….. tinggal tunggu saj kita hasilnya…, Bencana ang akan kita dapatkan. mohon masyarakat sadar lah……. yag untung itu mereka…. kita masyarakat…. No..! gak ada untungnya……., lihat contoh di Tuban, Gresik, Cibinong dll. bekas galian tambang dibiarkan ……, bila musim hujan…. banjir, bila musim kemarau ……..kering krontang, apa kita masyarakat Rembang mau seperti mereka….., kalau mau silahkan tapi….. ingat cucu dan anak kita nanti akan tanya … Rejim siapa yag menghancurkan Lingkungan kita……!!! Matur suwun mas..!

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan