Aksara Dada Peksi Masjid Lasem Mendesak Diterjemahkan

Senin, 5 Maret 2018 | 19:20 WIB

Aksara jawa kuno prasasti pada dada peksi Masjid Lasem belum kunjung diketahui arti atau bacaannya, setidaknya hingga Senin (5/3/2018). (Foto: mataairradio.com)

 

LASEM, mataairradio.com – Aksara jawa kuno prasasti pada dada peksi Masjid Lasem belum kunjung diketahui arti atau bacaannya, setidaknya hingga Senin (5/3/2018).

Padahal arti dari aksara ini penting untuk mengungkap fakta sejarah dari Masjid Lasem.

Dada peksi adalah bagian balok melintang di bagian penampang atas mengarah mustaka masjid.

Panjang dada peksi Masjid Lasem sekitar empat meter dengan lebar sekitar 20 centimeter. Diduga, aksara jawa kuno di dada peksi itu merupakan aksara jawa khas Lasem.

Abdullah Hamid, pemerhati budaya Lasem kepada mataairradio mengaku sudah pernah menghubungi sejumlah pihak guna menerjemahkan aksara kuno prasasti pada dada peksi Masjid Lasem.

Namun para pihak itu belum memberikan respon berupa kunjungan ke lokasi Masjid Lasem.

Di antara pihak yang dihubungi Abdullah adalah BPCB Jawa Timur dan Jawa Tengah, ahli bahasa jawa dari Universitas Gajah Mada dan Universitas Indonesia, termasuk ahli dari Australia yang kini sedang bertugas di Solo, namun belum juga ditindaklanjuti.

Abdullah yang juga pengurus perpustakaan Masjid Lasem menegaskan, aksara kuno prasasti pada dada peksi Masjid Lasem penting untuk diungkap.

“Selain untuk mengungkap kapan Masjid Lasem mulai dibangun, juga untuk menguak kesejarahan Lasem,” katanya.

Apalagi, selain dada peksi, Masjid Lasem memuat pula makutapraba atau mustaka dengan corak unik.

“Mustaka Masjid Lasem memiliki relief batara,” terangnya.

Menurut Abdullah, relief makutapraba ini tergolong langka. Di Nusantara, diduga hanya ada di Lasem.

Ia menandaskan makutapraba atau mustaka Masjid Lasem ini merupakan gambaran pengejawantahan toleransi.

“Islam masuk Lasem dengan tidak menggeser habis tradisi serta budaya saat Lasem menjadi daerah kekuasaan dari Majapahit,” katanya.

Abdullah menambahkan, pihak pemerhati budaya Lasem dan takmir masjid setempat serius mengembangkan kawasan tersebut sebagai pusat wisata agama.

Direncanakan akan dibangun pendapa di altar Makam Adipati Tejakusuma I atau Mbah Srimpet.

Sementara museum Masjid Lasem direncanakan dibangun di sisi barat-utara yang kini didiami pertokoan.

“Rencananya, museum akan dibangun di lantai II pertokoan. Progresnya masih dalam tahap konsultasi dengan Dinbudpar Kabupaten Rembang,” katanya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan