Air Terjun Kalimancur Mulai Jadi Sumber Penghidupan Warga

Sabtu, 19 Maret 2016 | 18:53 WIB
Kondisi tingkat kedua dari Air Terjun Kalimancur yang bertingkat empat, kering akibat curah hujan yang minim dan pemakaian air terjunan untuk keperluan pengairan lahan pertanian, Sabtu (19/3/2016). (Foto: Pujianto)

Kondisi tingkat kedua dari Air Terjun Kalimancur yang bertingkat empat, kering akibat curah hujan yang minim dan pemakaian air terjunan untuk keperluan pengairan lahan pertanian, Sabtu (19/3/2016). (Foto: Pujianto)

 

LASEM, mataairradio.com – Air Terjun Kalimancur di wilayah Dusun Sidorejo Desa Gowak Kecamatan Lasem mulai menjadi sumber penghidupan bagi warga setempat.

Pasalnya, air terjun empat tingkat ini, kini dikunjungi banyak pelancong dari berbagai daerah, termasuk dari luar kabupaten.

Sunyardi warga setempat, Sabtu (19/3/2016) pagi mengaku sudah hampir seminggu ini berjualan di kawasan menuju air terjun. Ia berjualan sembari menggembala tiga ekor sapinya di kawasan hutan.

Selain dirinya, tampak masih ada satu lagi warga yang berjualan dagangan serupa; minuman dan makanan ringan.

Dalam sehari, ia mengaku bisa untung sekitar Rp50.000 dari hasil penjualan dagangannya. Menurutnya, keuntungan itu lumayan untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup.

“Sudah sejak dulu, air terjun dikunjungi orang-orang. Tapi akhir-akhir ini, makin ramai dikunjungi warga luar daerah, meski aksesnya masih buruk,” katanya.

Wakhid, seorang pengunjung dari Kecamatan Batangan Kabupaten Pati mengaku datang bersama rombongan dengan menumpang tiga mobil.

Ia mengaku ingin melihat pemandangan Air Terjun Kalimancur karena kepincut kabar yang beredar soal tempat itu.

Namun sesampainya di lokasi air terjun, ia mengaku kecewa. Karena air terjun di tingkat pertama dan kedua, sedang kering.

“Katanya gara-gara lama nggak hujan dan airnya disedot untuk keperluan mengairi lahan pertanian,” terangnya.

Dari keterangan kawan serombongannya, yang ada airnya hanya di tingkat 3 dan 4. Sementara ia tidak berani naik, karena medannya sulit.

“Mesti memanjat tebing berbatu, atau kalau tidak mesti jalan memutar karena yang tingkat 1 dan 2 kering,” katanya.

Tetapi kekecewaan itu, diakuinya lumayan terobati dengan indahnya pemadangan di sekitar air terjun yang kering. Pasalnya, panorama alam di areal tersebut sangat hijau dan dihiasi bebatuan besar.

“Sekadar membayangkan datang lagi dan bertepatan dengan air yang berlimpah,” tegasnya.

Sementara itu, beberapa tokoh warga setempat mengakui, akses jalan menuju air terjun perlu diperbaiki. Paling tidak dalam waktu dekat mesti ada perapian semak hambatan samping.

Beberapa warga mengakui, mereka bisa mendulang berkah dari keberadaan air terjun tersebut.

Selain berjualan, sejumlah pemuda desa setempat, tampak sudah mengutip ongkos parkir bagi kendaraan pengunjung.

Mereka meminta maklum dari pengunjung mengingat jarak dari jalan utama ke air terjun sekitar satu kilometer, sehingga mesti ada pengamanan kendaraan.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan