Agus Berkicau dari Balik Kedungpane Cokot Salim

Senin, 20 Oktober 2014 | 18:32 WIB
Siaran pers yang ditulis Agus Supriyanto, Mantan Kepala Dinas ESDM Rembang dan dikirimkan via surat elektronik oleh pihak keluarganya kepada mataairradio.com, Senin (20/10/2014) petang. (Foto: Pujianto)

Siaran pers yang ditulis Agus Supriyanto, Mantan Kepala Dinas ESDM Rembang dan dikirimkan via surat elektronik oleh pihak keluarganya kepada mataairradio.com, Senin (20/10/2014) petang. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Mantan Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kabupaten Rembang Agus Supriyanto berkicau dari balik dinding penjara Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kedungpane Semarang, soal pihak yang semestinya bertanggung jawab atas proyek PPID 2011.

Melalui pihak keluarga, Agus mengirimkan siaran pers kepada mataairradio.com, Senin (20/10/2014) petang, yang intinya meminta aparat penegak hukum agar memeriksa Bupati Rembang (non-aktif) Moch Salim dalam kasus korupsi proyek percepatan pembangunan infrastuktur daerah (PPID) 2011.

Menurut Agus, dirinya divonis bersalah oleh Majelis Hakim Pengadilan Tipikor. Namun vonis ini oleh Agus disebut karena konsekuensi jabatan selaku Kepala Dinas ESDM, bukan karena melawan hukum. Dia menganggap itu karena melaksanakan perintah Bupati Rembang Moch Salim.

Dalam siaran pers itu, Agus menyebut bahwa semua tahu, lokasi kegiatan yang dibiayai oleh dana PPID berada di lokasi milik Perhutani itu belum memiliki izin dari Menteri Kehutanan.

Sementara, semestinya penggunaan dana PPID adalah untuk kepentingan umum. Ini, menurut Agus, jelas telah melanggar Peraturan Menteri Kehutanan RI Nomor P-18/Menhut-II/2011 dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor140/PMK-07/2011.

“Yang patut kita pertanyakan adalah, siapa yang telah ‘melawan hukum’ dengan melanggar peraturan tersebut. Yang patut diduga dalam hal ini adalah yang telah memerintahkan saya selaku Kepala Dinas ESDM yaitu Bupati Rembang (yang kini non aktif) Moch Salim,” katanya.

Agus juga mengatakan, bahwa dalam Putusan Perkara No. 55/Pid.Sus/2014/PN.Tipikor Semarang tertanggal 30 September 2014, Majelis Hakim menyebut adanya rangkaian perbuatan beberapa orang.

“Fakta hukum memperlihatkan adanya rangkaian dirinya selaku Pengguna Anggaran, Abdul Muttaqin selaku PPK, dan Warsiman selaku Ketua OMS Rukun Makmur, serta Moch Salim selaku Bupati Rembang, menunjukkan suatu kerjasama yang sangat erat yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya.

“Tanpa ada perintah Bupati Rembang kepada saya agar melaksanakan kegiatan pemeliharaan jalan dengan cara swakelola, maka saya tidak akan melakukan kegiatan dengan cara swakelola.

Tanpa adanya persetujuan Abdul Muttaqin selaku PPK, maka Warsiman tidak akan dapat melaksanakan pekerjaan pemeliharaan dan peningkatan jalan di Desa Wonokerto-Tegaldowo-Tahunan,” tulis Agus.

Agus menegaskan, Majelis Hakim di dalam putusannya menyatakan bahwa perintah Bupati Moch Salim terhadap dirinya adalah suatu perintah yang telah menyalahi aturan dan prosedur.

“Karena itu, tidak adil jika pihak kejaksaan tidak memeriksa Moch Salim selaku Bupati Rembang (non-aktif), karena yang bersangkutan adalah inisiator, pemrakarsa dan pemberi perintah kepada saya selaku pengguna anggaran pada kegiatan pemeliharaan jalan Wonokerto-Tahunan-Tegaldowo,” katanya.

Agus mengklaim, pihak kejaksaan telah mempunyai data atas aliran dana PPID dari Warsiman selaku ketua OMS Rukun Makmur sebagai pelaksana proyek ke PT AHK dan CV Karya Mina, yang notabene merupakan perusahaan milik keluarga Moch Salim.

“Jaksa telah tebang pilih dalam menyelesaikan kasus ini. Bagaimana dengan Warsiman sebagai pelaksana sekaligus Ketua OMS Rukun Makmur yang jelas-jelas telah menyetor dana PPID ke perusahaan milik keluarga Moch Salim. Bagaimana pekerjaan milik DPU yang sampai saat ini dibiarkan,” ungkapnya.

Hingga Senin (20/10/2014), pihak Moch Salim belum memberikan pernyataan untuk memberikan konfirmasi mengenai beberapa pihak yang meminta ada pemeriksaan terhadap dirinya mengenai kasus korupsi dana PPID senilai Rp1,5 miliar pada tahun 2011.

Bupati Rembang (non-aktif) Moch Salim sendiri kini mendekam di Lapas Kedungpane untuk menjalani vonis dua tahun penjara karena terbukti bersalah di kasus korupsi penyertaan modal PT Rembang Bangkit Sejahtera Jaya (RBSJ).

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan