750 Pengidap HIV di Rembang Belum Terdeteksi

Selasa, 1 Desember 2015 | 16:02 WIB
Kepala Dinas Kesehatan Rembang Ali Syofii. (Foto:Pujianto)

Kepala Dinas Kesehatan Rembang Ali Syofii. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Sekitar 750 pengidap HIV atau penderita AIDS di Kabupaten Rembang belum terdeteksi keberadaannya, setidaknya sampai dengan akhir November kemarin.

Angka tersebut berdasarkan estimasi Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah untuk Rembang.

Kepala Dinas Kesehatan Rembang Ali Syofii, Selasa (1/12/2015) pagi mengungkapkan, jumlah pengidap HIV sampai akhir November kemarin, tembus 88 orang, sedangkan penderita AIDS sudah 164 orang.

“Total pengidap HIV/AIDS di kabupaten ini telah mencapai 252 orang per akhir November kemarin,” ungkapnya kepada mataairradio.

Dari jumlah tersebut, sudah 113 orang penderitanya yang meninggal dunia. Menurut Ali, mereka yang belum terdeteksi ini sedang gencar dicari agar bisa ditemukan secara cepat.

“Sebab, para pengidap HIV itu membutuhkan diagnosa, obat, dan penanganan secara cepat,” tandasnya.

Pihak Dinas Kesehatan Rembang mengakui, ketimpangan jumlah pengidap HIV dengan penderita AIDS di kabupaten ini, menyisakan pertanyaan.

“Semestinya, secara ideal, jumlah pengidap HIV akan lebih tinggi ketimbang mereka yang sudah menderita AIDS,” terangnya.

Menurutnya, jika diperbandingkan, maka pengidap HIV akan bisa 4 kali lipat dari jumlah penderita AIDS. Ketimpangan yang terjadi ini akibat adanya keterlambatan deteksi.

“Artinya pengidap HIV ini terlambat menjalani diagnosa, sehingga begitu ditemukan petugas kesehatan, sudah masuk stadium AIDS,” bebernya.

Ali pun mengakui, kenyataan keterlambatan deteksi pengidap HIV, menjadi PR atau bahan kajiannya. Secara tegas ia menduga, hal itu bisa jadi soal sosialisasinya yang kurang merata.

“Padahal jika deteksi cepat, maka pengidap HIV akan cepat pula mengakses obat dan kami bisa menekan penyebarannya,” tegasnya.

Sementara itu mengenai akses obat antiretroviral (ARV), pengidap HIV atau penderita AIDS kini sudah bisa mengambilnya ke RSUD dr R Soetrasno Rembang.

“Namun hanya penderita baru yang bisa mengakses ARV di Rembang. Penderita lama tetap di RSUD Soewondo Pati,” tambahnya.

Kepala Dinas Kesehatan Rembang mengaku tidak tahu persis alasan masih harus diaksesnya ARV bagi penderita lama di Soewondo.

“Mungkin hal itu soal regimen atau pengobatan yang tidak sama persis dengan yang penderita baru,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan