4 Koperasi Garam di Rembang MoU dengan PT

Kamis, 15 Oktober 2015 | 17:55 WIB
Ilustrasi (Foto: Arif Bahtiar)

Ilustrasi (Foto: Arif Bahtiar)

 
REMBANG, mataairradio.com – Empat koperasi petani garam di Kabupaten Rembang akan diarahkan untuk meneken perjanjian kerjasama atau MoU dengan dua perusahaan pergaraman, yakni PT Garam (Persero) dan PT Susanti Megah Surabaya.

Empat koperasi itu adalah Tri Daya Abadi (Gedongmulyo-Lasem), Guyup Rukun (Purworejo-Kaliori), Sari Makmur (Tambakagung-Kaliori), serta Garuda (Dresi Kulon-Kaliori).

“Empat koperasi ini kami anggap cukup sehat dan mampu untuk bekerjasama dengan perusahaan pergaraman,” ungkap PPK Pugar di Dinas Kelautan dan Perikanan Rembang Nurida Andante Islami.

Menurutnya, perusahaan mengikat koperasi dengan syarat tertentu, misalnya kapasitas gudang serta jaminan pengawasan kualitas dan kelancaran pasokan.

“Empat koperasi itu kini sedang bina, sehingga lebih siap untuk MoU,” tandasnya.

Andante mengungkapkan, beberapa petani garam pernah menjalin kerjasama dengan perusahaan pergaraman.

Misalnya petani garam di Desa Gedongmulyo Kecamatan Lasem, yang bekerjasama dengan PT Susanti Megah Surabaya.

“Tetapi kerjasama itu hanya untuk bulan Juli silam. Hanya satu bulan saja. Nggak tahu kenapa,” bebernya.

Petani garam di Purworejo Kecamatan Kaliori pun pernah bekerjasama dengan PT Sumatraco Langgeng Makmur Surabaya. Namun kerjasama juga tidak berlanjut setelah kontraknya habis.

“Kini perusahaan-perusahaan itu diharapkan mau bekerjasama lagi dengan koperasi petani garam, terutama PT Garam dan PT Susanti Megah,” katanya.

Apalagi, Pemerintah Pusat sudah mencanangkan kewajiban bagi perusahaan pergaraman nasional, untuk menyerap 50 persen produksi garam dalam negeri.

“Rencananya, 22 Oktober nanti, perjanjian kerjasama antara koperasi garam dengan perusahaan pergaraman akan dicanangkan,” ungkapnya.

Andante menambahkan, melalui kerjasama dengan perusahaan pergaraman, petani garam tidak akan terlalu repot menjual hasil produksi.

“Secara harga, penyerapan garam oleh perusahaan dinilai lebih menjanjikan,” katanya.

Ketika PT Susanti Megah menyerap garam petani Lasem pada Juli silam, harganya mencapai Rp750 per kilogram. Padahal harga garam di lokalan saat itu hanya Rp500 per kilo.

“Selisih harga tersebut memberi andil keuntungan bagi petani garam,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan