Belasan Santri Belajar Produksi Film untuk Dakwah

Monday, 11 January 2016 | 15:17 WIB
Dominic Jackson dan penerjemahnya saat berbincang dengan reporter mataairradio, Senin (11/1/2016) pagi. (Foto: Wahyu Salvana)

Dominic Jackson dan penerjemahnya saat berbincang dengan reporter mataairradio, Senin (11/1/2016) pagi. (Foto: Wahyu Salvana)

 

REMBANG, mataairradio.com – Belasan santri dari Rembang, Magelang, dan Yogyakarta belajar memproduksi film guna mendakwahkan islam yang damai di Indonesia ke seluruh penjuru dunia.

Mereka belajar kepada produser film ternama asal Jerman, kelahiran Amerika, Dominic Jackson. Pelatihan digelar selama 9 hari sejak Sabtu 9 Januari lalu di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang.

Salah satu inisiator pelatihan ini, C Holland Taylor mengatakan, ajaran islam yang damai di Nusantara perlu disiarkan ke antero jagat. Sebab wajah islam akhir-akhir ini dicitrakan buruk.

“Di negara-negara barat, islam dicitrakan sebagai teroris, berwajah keras, dan memperalatkan agama guna mencapai tujuan politik.

Padahal di Indonesia, islam dijalankan secara integral, yang mendekati Tuhan tidak dengan badan, tapi dengan hati yang bersih dan sayang kepada sesama,” terangnya .

Sebelum ini, bersama Majma’ Buhuts An-Nahdliyyah, Ansor, dan sejumlah yayasan, telah juga digagas dan diluncurkan film berjudul “Rahmat Islam Nusantara” yang juga bermaterikan dakwah islam di Nusantara, Indonesia.

Sementara itu, Dominic Jackson mengatakan tertarik terlibat dalam program pelatihan produksi film untuk kepentingan dakwah islam, setelah ada penjelasan dan pengetahuan tentang islam di Nusantara dari Holland.

Holland Taylor adalah warga asli Georgia yang kini bermukim di Magelang. Menurutnya, Holland telah banyak berkisah tentang islam yang damai dan penuh kasih sayang terhadap sesama makhluk di Indonesia.

“Kata Holland, di Indonesia ada islam kultural yang cinta damai. Penuh kasih sayang,” katanya.

Ia juga ingin ikut menampilkan islam yang ada di Indonesia ini kepada dunia. Sebab ia menyebut, citra islam di Negara Barat terlanjur negatif.

Dominic pun menjelaskan, mempresentasikan dakwah islam di Nusantara melalui audio visual, diyakini akan lebih bisa diterima, ketimbang sekadar lewat tulisan dan seminar.

Mengenai pelatihan produksi film yang diikuti santri, ia menyebut akan berhasil karena mereka cepat paham dan energik.

“Saya sudah 20 tahun berkecimpung di dunia seperti ini (produksi film). Di sini, peserta antusias, cepat belajar, dan paham,” tandasnya melalui penerjemah.

Sementara itu, sebelum pelatihan berakhir pada saatnya nanti, para peserta yang jumlahnya sekitar 15 orang, termasuk Kyai M Jadul Maula, pendiri Pondok Pesantren Kaliopak, Yogyakarta, akan terlibat dalam pembuatan film pendek.

Film itu nantinya akan diunggah di internet. Setelah pelatihan itu pun, Dominic menyatakan bersedia memberikan konsultasi kepada para alumnus pelatihan.

Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin KH Ahmad Mustofa Bisri menyempatkan waktu untuk melihat pelatihan yang melibatkan ragam peralatan canggih dalam produksi film.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan