Warga Resah Jalan Poros Pamotan Terancam Remuk

Kamis, 14 April 2016 | 16:24 WIB
Jembatan Palan di ruas Pamotan-Sedan masih dalam proses bongkar, Kamis (14/4/2016). (Foto: Mukhammad Fadlil)

Jembatan Palan di ruas Pamotan-Sedan masih dalam proses bongkar, Kamis (14/4/2016). (Foto: Mukhammad Fadlil)

 

PAMOTAN, mataairradio.com – Warga Desa Pamotan Kecamatan Pamotan mengaku resah karena jalan poros kampung mereka kini dipakai sebagai jalur alternatif, sehingga kondisi permukaannya terancam remuk.

Akibat pembongkaran Jembatan Palan pada ruas Pamotan-Sedan, di sebelah utara Masjid Pamotan, pengguna jalan dari arah Rembang menuju Sedan, mesti lewat masuk Gang II Palan dan tembus gang depan Polsek Pamotan.

Sementara pemakai jalan dari arah Sedan menuju Rembang, mesti lewat Gang Dukuh Kauman dan tembus gang sebelah timur Balai Desa Pamotan.

Kepala Desa Pamotan Abdul Rouf, Kamis (14/4/2016) mengatakan, keresahan warganya juga lantaran pihak rekanan pekerjaan pembongkaran dan perbaikan Jembatan Palan, menolak merehabilitasi jalan poros desa, ketika proyek tersebut selesai.

“Saya sebagai wakil masyarakat juga menyesalkan pihak pemborong yang tidak menyediakan jembatan darurat,” keluhnya kepada reporter mataairradio.

Pihak Pemerintah Desa Pamotan menyatakan sudah mengomunikasikan permintaan warga agar jalan desa diperbaiki lagi setelah dipakai sebagai jalur alternatif, atau pihak pemborong menyediakan jembatan darurat, tetapi jawaban rekanan tidak memuaskan.

“Rekanan cuma bilang bahwa tidak ada anggaran untuk memenuhi permintaan warga dan pemerintah desa tersebut,” tandasnya saat ditemui di kantor desa setempat.

Menurutnya, pihak desa menerapkan kebijakan pembatasan kendaraan yang boleh mengakses “jalur alternatif” dengan memanfaatkan jalan poros desa, agar kerusakan jalan desa tidak terlalu parah.

“Hanya sepeda motor dan mobil pribadi atau colt diesel tak bermuatan saja yang boleh masuk jalan desa. Setelah proyek ini selesai pun, kami harap agar Pemkab Rembang membantu desa memperbaiki jalan poros kampung,” tegasnya.

Samsul, salah seorang warga RT 2 RW 1 Dukuh Palan Desa Pamotan mengaku khawatir oleh pemanfaatan jalan poros desa sebagai jalur alternatif karena banyak anak kecil yang berlalu-lalang di jalanan.

“Anak-anak itu kan sering main di sekitar jalan, kalau seperti ini, sebagai orang tua ya khawatir,” ujarnya.

Menurutnya, warga terpaksa membuat penyendat laju kendaraan di beberapa titik, agar pengguna jalan tidak melaju kencang dan mencelakakan anak-anak.

“Warga kemarin bersama-sama membuat polisi tidur, agar kendaraan yang lewat tidak ngebut,” imbuhnya.

Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Rembang Suyono sebelumnya mengklaim warga Desa Pamotan tak keberatan jalan poros kampung mereka, dipakai untuk jalur alternatif.

“Warga nggak masalah dengan penggunaan jalan poros desa untuk jalur alternatif. Tapi truk bermuatan kami larang memakai jalur poros desa,” tegasnya.

Berdasarkan pantauan, truk bermuatan berat dari arah Sedan menuju Rembang, dialihkan menjadi tetap melintasi Jalur Pantura Kragan.

Proyek pembongkaran dan perbaikan Jembatan Palan dikerjakan oleh PT Marga Karya dengan nilai kontrak Rp7,4 miliar. Jembatan sepanjang 30 meter ini, dijadwalkan selesai diperbaiki pada 12 November 2016 atau selama 270 hari pelaksanaan.

 

Penulis: Mukhammad Fadlil
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan