Tujuh Pramusaji Terjaring Razia Satpol PP Rembang

Rabu, 15 Juni 2016 | 15:25 WIB
Lima pramusaji dari warung kopi berfasilitas karaoke "Dragon" saat didata dan dibina oleh aparat Satpol PP Rembang seusai terjaring razia, Rabu (15/6/2016) pagi. (Foto: Pujianto)

Lima pramusaji dari warung kopi berfasilitas karaoke “Dragon” saat didata dan dibina oleh aparat Satpol PP Rembang seusai terjaring razia, Rabu (15/6/2016) pagi. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Tujuh orang pramusaji warung kopi berfasilitas karaoke terjaring razia yang digelar oleh aparat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Rembang, Rabu (15/6/2016) pagi.

Mereka diamankan karena bekerja pada warung kopi berfasilitas karaoke yang nekat beroperasi pada siang hari di bulan Ramadan. Padahal usaha jenis ini hanya boleh buka mulai pukul 17.00-22.00 WIB, khusus di bulan Puasa.

Di antara mereka yang diamankan berasal dari Kabupaten Blora, Jepara, bahkan hingga Tangerang-Banten. Begitu diamankan ke Markas Satpol PP untuk didata dan dibina, tampak bos mereka datang untuk mengurusnya.

“Lima orang kami amankan dari Warung Kopi Dragon di kawasan eks Stasiun Rembang dan dua dari Warkop Putra Dewa di wilayah Karangmencol-Sumberjo,” ungkap Kepala Seksi Penegak Perda Satpol PP Rembang Sudarno.

Dari razia tersebut, petugas Satpol PP juga mengamankan satu unit perangkat power, satu unit VCD, dan satu buah mikropon dari Warkop Dragon, sedangkan dari Warkop Putra Dewa tidak ada barang bukti yang diangkut.

“Kalau yang Putra Dewa; dia buka tapi tidak membunyikan musik karaoke. Barang bukti yang kami sita dari Dragon akan ditahan sampai setelah usai bulan Ramadan,” tandasnya.

Sudarno mengaku menyesalkan tindak nekat warung kopi berfasilitas karaoke beroperasi pada siang hari bulan Ramadan, meski sudah ada surat instruksi dari Bupati Rembang guna mengendalikannya.

“Saya kira, mereka (pihak warung kopi, red.) sehat jasmani dan rohani sehingga bisa membaca surat instruksi dari Bupati. Namun masih melanggar dan memaksa buka,” ujarnya.

Mengenai bentuk tindakan tegas yang akan diterapkan terhadap warung kopi berfasilitas karaoke yang beroperasi di luar jam yang ditentukan, ia sebatas melakukan pembinaan saja.

“Kalau untuk menutup usaha, masih belum ya, kecuali mengulang-ulang tindakan yang sama. Kita cukup bina agar mereka tidak beroperasi pada siang hari di bulan Ramadan, sebagaimana ketentuan. Ini agar ada sikap saling menghargai mereka yang sedang berpuasa,” tegasnya.

Begitu selesai didata dan dibina, para pramusaji itu diminta meneken surat pernyataan bahwa akan mematuhi aturan yang berlaku, kemudian baru dilepaskan pulang.

Istikhomah, salah seorang pramusaji yang mengaku berasal di Tangerang mengaku sudah sempat mengingatkan bosnya agar buka sesuai surat instruksi Bupati yang telah dibacanya.

“Sudah saya ingatkan, tapi kalau buka hanya jam 17.00-22.00, nggak dapat uang. Saya hanya kerja, semua keputusan akhir tergantung bos,” kata ia di depan Sudarno.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan