Terpidana Kasus Intimidasi Wartawan Akhirnya Dieksekusi

Senin, 18 November 2019 | 16:37 WIB
Kepala Seksi Pidana Umum pada Kejaksaan Negeri Rembang, Eko Hartoyo saat mmeberikan penjelasan ihwal eksekusi terpidana kasus intimidasi terhadap wartawan, pada Senin (18/11/2019) siang. (Foto: mataairradio.com)

REMBANG, mataairradio.com – Suryono (33) warga Desa Grawan, Kecamatan Sumber yang merupakan terpidana kasus intimidasi wartawan akhirnya dieksekusi oleh pihak Kejaksaan Negeri Rembang.

Terpidana merupakan salah satu karyawan PT PJB UB JOM PLTU 1 Jawa Tengah Rembang (PLTU Sluke), semula mendapatkan vonis hukuman percobaan.

Namun di tingkat kasasi Mahkamah Agung, majelis hakim berpandangan berbeda, sehingga yang bersangkutan divonis hukuman tiga bulan penjara.

Suryono masih mengajukan peninjauan kembali (PK), tetapi karena proses PK tidak menghalangi upaya eksekusi, maka jaksa tetap melakukan eksekusi dan memasukkannya ke dalam Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas II B Rembang, sejak Kamis (14/11/2019).

Kepala Kejaksaan Negeri Rembang, Agung Purnomo melalui Kepala Seksi Pidana Umum, Eko Hartoyo menjelaskan, sebelum melakukan eksekusi, pihaknya sudah melayangkan tiga kali surat panggilan kepada yang bersangkutan.

Ia mengungkapkan, sempat muncul informasi, bahwa yang bersangkutan sempat dipindah tugaskan ke Aceh. Tapi dari hasil pendekatan persuasif Kejaksaan Negeri Rembang, saat panggilan ketiga, Suryono hadir di Kejaksaan Negeri dan langsung ditahan.

“Jadi kami lakukan pendekatan persuasif dulu, termasuk dengan pimpinan PLTU. Kalau panggilan ketiga nggak datang, mau nggak mau suka nggak suka ya akan kita jemput paksa. Tapi pada panggilan ketiga, ia mau datang memenuhi panggilan, selanjutnya ditahan,” bebernya.

Eko Hartoyo membeberkan, awal mulanya jaksa penuntut umum menuntut Suryono dengan tujuh bulan penjara. Namuk pada saat itu majelis hakim Pengadilan Negeri Rembang memvonis tiga bulan penjara, dengan masa percobaan enam bulan.

Maksudnya, apabila selama enam bulan itu, Suryono melakukan pelanggaran yang sama, tervonis baru dipenjara selama tiga bulan. Begitu sebaliknya, apabila tidak mengulangi perbuatan yang sama, maka tidak perlu menjalani hukuman penjara.

Eko melanjutkan, kemudian, Jaksa penuntut umum melakukan banding ke Pengadilan Tinggi Jawa Tengah. Majelis hakim Pengadilan Tinggi Jawa Tengah menguatkan putusan hakim Pengadilan Negeri Rembang.

“Setelah itu, jaksa penuntut umum menempuh banding lagi ke Mahkamah Agung. Majelis hakim di tingkat kasasi, memutus Suryono harus menjalani hukuman tiga bulan penjara.

Meski jauh dari tuntutan jaksa penuntut umum yang tujuh bulan, saya kira sudah bagus terpidana menerima tiga bulan penjara, dari yang semula hukuman percobaan,” tegasnya, saat diwawancarai wartawan pada Senin (18/11/2019) siang.

Sebelumnya, kasus intimidasi kepada wartawan ini bermula ketika terjadi kecelakaan kerja di PLTU Sluke, pada 18 Agustus 2016 lalu.

Sebanyak, empat orang pekerja PLTU Sluke menderita luka bakar serius dan dibawa ke rumah sakit dr. R. Soetrasno Rembang. Dari empat korban dua diantaranya, pada akhirnya meninggal dunia.

Sejumlah wartawan yang sedang berusaha untuk meliput insiden itu di rumah sakit menerima intimidasi. Mereka dihalang-halangi massa, sebagian diduga merupakan pekerja PLTU.

Bahkan telefon selular milik salah satu wartawan, Wisnu Aji dari media Radar Kudus Jawa Pos diminta dan dihapus file-file hasil liputannya. Sedangkan wartawan lainnya, Sarman Wibowo dari Semarang TV juga sempat dikejar, serta diancam bakal dihabisi.

Peristiwa tersebut diteruskan ke jalur hukum, karena dianggap telah mengancam kemerdekaan pers.

Penulis: Mukhammad Fadlil
Editor: Mukhammad Fadlil

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan