Syaibah Mawal Sowan Mbah Moen untuk Minta Maaf

Minggu, 27 November 2016 | 21:32 WIB
KH Maimoen Zubair mendoakan Syaibatul Alawiyah (berkerudung) dan keluarganya serta seluruh anggota rombongan. Syaibatul meminta maaf kepada Mbah Moen atas statusnya yang menghina ulama sepuh, mustasyar PBNU. (Foto: mataairradio.com)

KH Maimoen Zubair mendoakan Syaibatul Alawiyah (berkerudung) dan keluarganya serta seluruh anggota rombongan. Syaibatul meminta maaf kepada Mbah Moen atas statusnya yang menghina ulama sepuh, mustasyar PBNU. (Foto: mataairradio.com)

 

SARANG, mataairradio.com – Pemilik akun facebook Syaibah Mawal, Syaibatul Alawiyah warga Kampung Rawabuntu Serpong sowan kepada KH Maimoen Zubair di Karangmangu Kecamatan Sarang, Ahad (27/11/2016) siang.

Ibu dua orang anak ini datang untuk meminta maaf kepada Mbah Moen atas bernada menghina di facebook. Wanita 28 tahun ditemani suami dan anak pertama pertamanya yang baru berumur empat tahun.

Dengan menumpang Avanza B 1801 CFW, Syaibatul sampai di kediaman Mbah Moen sekitar pukul 13.30 WIB. Setelah menunggu sekitar sejam mereka ditemui oleh ulama sepuh tersebut.

Rombongan Syaibatul diterima di ruang tamu. Jika biasanya pintu kediaman Mbah Moen tidak ditutup ketika menerima tamu, tetapi kali ini beda karena tidak dibiarkan terbuka.

Dengan wajah menunduk, Syaibatul memohon maaf atas statusnya yang menuding Mbah Moen sesat dan goblok serta keblinger. Ia menyatakan khilaf sehingga menulis seperti itu.

Melalui akun facebook Syaibah Mawal pada 5 November 2016 pukul 11.06, Syaibatul membagikan berita dari laman beritateratas.com dengan judul “Bikin Kagum, Nasehat Bijak Mbah Mun Terkait Ahok dan Almaidah 51 Ini Menampar Keras MUI dan FPI”.

Namun tidak cukup membagi berita itu, Syaibatul malah menyertakan status “sesat nii orang jgan diikutin yg bginian, kcuali klo islam lo cm KTP cm diakui negara bkan Allah. kitab suci dihina kok mnta maaf slsai, goblog. dah mau msuk liang lahat aj msih keblingerr”.

Kiai sepuh ini pun memaafkan kekhilafan Syaibatul dan banyak memberikan petuah dan cerita mengenai islam yang bineka tunggal ika. Pesan demi pesan disampaikan secara cair dan penuh rasa kekeluargaan.

Di ujung pertemuan, mustasyar PBNU ini pun melangitkan doa kepada segenap rombongan, termasuk Syaibatul, suami, dan anaknya. Ketika itu mereka didampingi oleh Kepala Satkorcab Banser dan sejumlah pengurus GP Ansor Tangerang.

Rombongan bertolak dari Sarang sekitar pukul 16.30 dan mampir sowan ke kediaman KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) di Leteh, Rembang atas inisiatif Kasatkorcab Banser Tangerang.

Tujuannya agar Syaibatul sekaligus kenal dan tahu tentang Gus Mus guna sekalian tahu akhlaq para kiai Nahdlatul Ulama. Sementara, sebelum Syaibatul dan rombongannya datang, di kediaman Gus Mus juga ada seorang yang meminta maaf atas ocehan di facebook.

Pemilik akun Zou Karebeth Surajaya, Zubad Maulana meminta maaf kepada Gus Mus karena share berita berjudul “Gus Mus: Kalau Jadi Salat Jumat di Jalan Raya, ini Bid’ah Besar” namun disertai status “Kang Abdi Rizkillah Noer ini baru ngawur. i want to say… “Bid’ah Ndiyassmu gus!!!”.

“Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Pak Kiai atas status saya di facebook yang copy paste niru Mas Pandu Wijaya,” kata Alumni Pesantren Gontor tahun 2006 yang kini memiliki profesi sebagai debt collector atau juru tagih dan tinggal di Lamongan ini.

Seperti halnya Pandu Wijaya dan para penghina lainnya, Gus Mus pun memaafkannya dan memberikan wejangan-wejangan kepada Zubad agar tidak berlebih-lebihan dalam menyikapi sesuatu.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




One comment
  1. Khaolil Mudlaafar

    November 28, 2016 at 8:35 am

    Assalamu’alaikum…
    Mohon, maaf. sepertinya ada kekeliruan dalam artikelnya. Atau mungkin saya yang salah tafsir.
    Mungkin yang dimaksud adalah “agar tidak berlebih lebihan”. Namun pada artikel tersebut tertulis “… Gus Mus pun memaafkannya dan memberikan wejangan-wejangan kepada Zubad agar berlebih-lebihan dalam menyikapi sesuatu.” Terima kasih…

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan