Sowan Mbah Moen, Kapolda Jateng Ajak Santri Jadi Polisi

Jumat, 27 Oktober 2017 | 20:01 WIB

Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jawa Tengah (Jateng) Irjen Polisi Condro Kirono sowan ke salah satu tokoh ulama Rembang, Kiai Haji Maemun Zubair di Desa Karangmangu Kecamatan Sarang, Jumat (27/10/2017) pagi. (Foto: Mukhammad Fadlil)

 

SARANG, mataairradio.com – Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jawa Tengah (Jateng) Irjen Polisi Condro Kirono sowan ke salah satu tokoh ulama Rembang, Kiai Haji Maimoen Zubair di Desa Karangmangu Kecamatan Sarang, Jumat (27/10/2017) pagi.

Kapolda tiba di kediaman Mbah Moen di Komplek Pondok Pesantren Al-Anwar sekitar pukul 09.00 WIB dengan didampingi oleh Kapolres Rembang AKBP Pungky Buana Santoso, Bupati Rembang Abdul Hafidz, dan Wakil Bupati Bayu Andriyanto.

Dalam kunjungan tersebut, Kapolda Jateng mengajak para santri agar berminat menjadi anggota kepolisian. Terlebih santri yang hafal Al-quran, apabila mencalonkan diri sebagai anggota kepolisian, maka akan mendapat nilai lebih.

Selain itu, Condro juga berbicara tentang kebangsaan. Ia mengatakan, saat ini peran santri dalam menjaga kesatuan bangsa, sangat dibutuhkan.

“Di Indonesia itu ada sekitar 1.340 suku, sehingga potensi konfliknya besar. Namun hingga kini kita masih bersatu, maka marilah kita jaga bersama,” ujarnya saat memberikan sambutan.

Sementara itu Mbah Moen mengatakan, di Indonesia, perjuangan tidak bisa dipisahkan dari kaum islam nasionalis. Sebab, Indonesia pernah mencanangkan perjuangan berupa “Resolusi Jihad” untuk melawan penjajah.

“Begitu juga Nabi, Nabi pertama kali mencanangkan perjuangan ke Madinah juga pada Oktober. Alhamdulillah sekarang pada Oktober diperingati sebagai Hari Santri,” imbuhnya.

 

Penulis: Mukhammad Fadlil
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan