Sikapi Intoleran, Tokoh Buddha Rembang Sampaikan Pesan Perdamaian

Kamis, 11 Mei 2017 | 13:39 WIB

Piyadhiro, tokoh Buddha sekaligus Kepala Vihara Ratanavana Arama di Desa Sendangcoyo Kecamatan Lasem menyampaikan pesan perdamaian pada perayaan Waisak 2561 Era Buddha tahun 2017. (Foto: Mukhammad Fadlil)

 

LASEM, mataairradio.com – Maraknya isu intoleransi belakangan ini menyita perhatian publik. Piyadhiro, tokoh Buddha sekaligus Kepala Vihara Ratanavana Arama di Desa Sendangcoyo Kecamatan Lasem menyampaikan pesan perdamaian.

Pesan perdamaian itu dikemas dalam tema Perayaan Hari Waisak 2561 Era Buddha tahun 2017, yaitu “Cinta Kasih untuk Menjaga Kebinekaan”.

Ia berharap, dengan mengusung tema tersebut akan menjadi momentum agar masyarakat khususnya umat buddha tetap menjaga kerukunan antarumat maupun golongan.

“Negara Indonesia ini merupakan negara kesatuan yang beragam. Oleh sebab itu, di Hari Waisak yang jatuh hari ini (10/5/2017) ini, kita umat Buddha se Indonesia mengambil tema yang berkaitan dengan isu terkini. Yakni Kebinekaan,” ujarnya saat ditemui mataairradio.com.

Ia mengatakan, dengan tema tersebut apabila nantinya diaplikasikan terhadap kehidupan sehari-hari, maka secara tidak langsung kebinekaan akan tetap terwujud dan mampu berjalan dengan baik di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat.

Ia juga mengatakan, sebagai tokoh agama harus mampu memberi contoh yang baik dan mampu menebar cinta kasih. Ia menyinggung perilaku tokoh-tokoh agama yang akhir-akhir ini justru menebarkan kebencian.

“Sebagai seorang tokoh agama harusnya mampu memberi contoh yang baik bagi umat, bukan malah menebar kebencian melalui memimpin demo. Seperti Gus Mus seorang tokoh agama Islam di Rembang yang mampu menjaga kebinekaan dengan menebarkan cinta kasih dan tidak ikut mimpin demo,” tandasnya.

Sementara itu, saat disinggung mengenai Perayaan Hari Waisak di Rembang, khususnya di Kecamatan Lasem, ia mengungkapkan, bahwa perayaan Waisak digelar secara sederhana.

“Perayaan Waisak kali ini kami gelar seperti biasa acara biasanya secara sederhana. Yaitu dengan menggelar pawai sederhana yang akan dimulai dari Cetiya (Vihara kecil, red.) yang ada di atas atau sebelah timur vihara ini (Vihara Ratanavana Arama),” imbuhnya.

Dalam pawai tersebut para Umat Budha ada yang membawa makanan, bunga, dupa, patung, dan lainnya sebagai persembahan kepada sang Pencipta. Pawai yang berakhir di Vihara Ratanavana Arama, ditutup dengan menggelar doa bersama.

 

Penulis: Mukhammad Fadlil
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan