Setengah Hati Laporkan Kecelakaan Kerja, PLTU Ditegur

Rabu, 24 Agustus 2016 | 19:37 WIB
Puluhan wartawan dengan PLTU IJB dimediasi oleh Kapolres Rembang AKBP Sugiarto di ruang petermuan Kantor PLN Rembang, Senin (22/8/2016) siang. Para jurnalis kukuh menuntut kasus intimidasi terhadap wartawan saat melakukan peliputan di UGD RSUD dr R Soetrasno Rembang diproses hukum hingga tuntas. (Foto: Pujianto)

Puluhan wartawan dengan PLTU IJB dimediasi oleh Kapolres Rembang AKBP Sugiarto di ruang petermuan Kantor PLN Rembang, Senin (22/8/2016) siang. Para jurnalis kukuh menuntut kasus intimidasi terhadap wartawan saat melakukan peliputan di UGD RSUD dr R Soetrasno Rembang diproses hukum hingga tuntas. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Pihak Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Rembang memberikan surat peringatan atau teguran kepada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Pembangkit Jawa Bali (PJB).

Pasalnya, laporan kasus kecelakaan yang menimpa empat pekerja mereka pada Kamis (18/8/2016) pekan lalu kepada pihak Dinsosnakertrans Kabupaten Rembang, terbilang setengah hati disampaikan.

Menurut pihak dinas, PLTU PJB memang sudah melapor secara lisan dan melalui surat kepada Dinsosnakertrans Kabupaten Rembang. Namun surat yang dikirim pada Senin (22/8/2016) lalu itu tidak dilengkapi dengan stempel perusahaan, sehingga dianggap tidak resmi.

Kepala Dinsosnakertrans Kabupaten Rembang Waluyo melalui Kepala Bidang Hubungan, Pembinaan, dan Pengawasan Tenaga Kerja Abdul Malik menyatakan, PLTU PJB Sluke telah melanggar aturan pelaporan kasus kecelakaan pekerja perusahaan.

Sebab, berdasarkan aturan yang berlaku, kecelakaan kerja di perusahaan wajib dilaporkan kepada Dinsosnakertrans paling lambat 2×24 jam setelah kejadian terjadi.

“Kami dengar ada kasus kecelakaan kerja di PLTU justru dari Dinsosnakertrans Provinsi Jateng. Kejadian Kamis, dan karena tidak ada laporan, kami diperintahkan oleh Kadin untuk mendatangi lokasi pada Sabtu (20/8/2016) akhir pekan lalu. Itu pun kami sempat sulit masuk,” bebernya.

Manajemen PLTU PJB meminta maaf atas belum ada laporan kasus tersebut. PLTU PJB berdalih sibuk mengurus empat korban, sehingga tidak sempat membuat laporan.

“Itu memang musibah. Namun, laporan semestinya tetap harus disampaikan kepada Dinsosnakertrans guna keperluan terkait santunan korban dan lain-lain,” terangnya.

Menurutnya, PLTU PJB memiliki sejumlah kewajiban terhadap karyawannya yang mengalami kecelakaan kerja dan semestinya hal tersebut telah tertuang dalam perjanjian antara perusahaan dan karyawan di awal masuk kerja.

“Memang sudah ada perawatan yang terbaik kepada korban. Karena BUMN, maka semestinya kualitas perawatan korban harus di atas BPJS Ketenagakerjaan,” tegasnya.

Empat orang keryawan PLTU PJB Sluke terluka bakar setelah terkena semburan uap panas dari bagian pipa mesin penggerak turbin. Seorang korban, yakni Andik Purwanto warga Jaken-Pati, akhirnya meninggal dunia setelah sempat mengalami perawatan di rumah sakit di Semarang.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan