Satpol PP Kecele Tertibkan Preman Alun-alun Lasem

Jumat, 1 April 2016 | 15:24 WIB
Kawasan pertokoan di depan Masjid Lasem. (Foto: mw_panoramio)

Kawasan pertokoan di depan Masjid Lasem. (Foto: mw_panoramio)

 

LASEM, mataairradio.com – Satpol PP Rembang diketahui sudah turun melakukan razia di kawasan pertokoan Alun-alun Lasem. Tetapi mereka tidak berhasil mengangkut satu pun preman yang dikeluhkan oleh para pedagang karena sering memalak.

Satpol PP hanya mendapati dan mengangkut sejumlah pelajar yang membolos dari sekolah namun nekat bermain play station di kawasan tersebut. Kepala Seksi Penegak Perda pada Satpol PP Rembang Sudarno, Jumat (1/4/2016) pagi, berdalih tak mendapati preman yang disebut dari anak punk.

“Kami kecele karena anak-anak punk itu mungkin sudah melayap di tempat lain pada siang hari,” katanya.

Tetapi Satpol berjanji akan kembali lagi lain waktu, kemungkinan malam hari, untuk menertibkan aksi premanisme di kompleks pertokoan depan Masjid Lasem tersebut.

“Kalau pagi nggak efektif, kami akan datang sore atau malam hari,” tandasnya.

Sudarno mengatakan, aksi pemalakan baru belakangan ini didengarnya. Ia mengakui belum menanyai satu per satu pedagang mengenai siapa saja pelaku pemalakan.

“Tetapi kasus pemalakan yang disertai tindakan nekat melukai korban, cukup menjadi bukti adanya aksi premanisme di lokasi itu,” ujarnya.

Begitu pula dengan informasi digunakannya salah satu titik di pojok selatan-timur kawasan pasar depan alun-alun itu untuk berbuat mesum, pihak Satpol PP pun mendengar.

“Soal itu (mesum), kami juga tidak sampai memergokinya,” tegasnya.

Sudarno menegaskan, hingga beberapa waktu ke depan, pihaknya akan mengencangkan pengawasan di kawasan tersebut.

Ia berharap kepada masyarakat agar memberikan laporan secepatnya kepada Satpol PP atau petugas berwajib begitu menjadi korban pemalakan atau aksi preman.

Sebelumnya, para pedagang mengeluhkan tindak premanisme di kawasan pertokoan depan Masjid Lasem atau yang dikenal sebagai alun-alun atau pasar.

Mereka kerap dimintai sejumlah uang, mulai ribuan hingga puluhan ribu rupiah. Barang dagangan mereka, sebagian juga sering hilang.

Di antara yang sering memalak, diketahui sebagai anak punk, tetapi juga ada yang merupakan warga dekat dengan kawasan tersebut.

Hari Minggu (27/3/2016) lalu, seorang pelajar dibacok gara-gara menolak memberikan uang kepada seorang preman yang sedang mabuk.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan