Santri Asal Kudus Meninggal Tenggelam di Embung Lodan

Kamis, 5 Januari 2017 | 22:24 WIB
Evakuasi terhadap Adip Rofiuddin, santri asal Kudus yang meninggal dunia akibat tenggelam di Embung Lodan, Kamis (5/1/2017) siang. (Foto: Pujianto)

Evakuasi terhadap Adip Rofiuddin, santri asal Kudus yang meninggal dunia akibat tenggelam di Embung Lodan, Kamis (5/1/2017) siang. (Foto: Pujianto)

 

SARANG, mataairradio.com – Seorang santri berasal dari Kabupaten Kudus meninggal dunia akibat tenggelam di Embung Lodan di Desa Lodan Wetan Kecamatan Sarang, Kamis (5/1/2017) siang.

Awalnya, korban bernama Adip Rofiuddin (18) warga Dukuh Kawakan Desa Cendono Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus bersama 10 orang temannya menengok sang guru yang sakit di Sedan.

Mereka menumpang kendaraan bermotor roda tiga. Namun setelahnya, para remaja yang merupakan santri Pesantren Al-Anwar Sarang tidak langsung pulang, tapi mampir dulu di Embung Lodan.

Korban dan empat orang temannya lalu mandi sambil bercanda di air, sedangkan enam kawan mereka hanya bermain di sekitar embung alias tidak ikut mandi bersama.

Menurut keterangan teman-teman korban kepada polisi, Adip diketahui tenggelam setelah menyelam ke dalam air, namun tidak kunjung muncul ke permukaan.

Kawan korban yang segera menyadari Adip tenggelam, segera meminta tolong kepada warga sekitar. Kebetulan, salah seorang perangkat desa yang dilapori.

Muskafid (40), salah seorang perangkat Desa Lodan Wetan kemudian mengontak pihak Polsek Sarang. Polisi cepat bergegas ke tempat kejadian dan memeriksa para saksi di lokasi.

Regu penolong gabungan dari BPBD, Ubaloka, Dinas Perhubungan, TNI, dan Polri yang juga mendapat laporan pun segera meluncur ke lokasi dan melakukan pencarian.

“Kejadian katanya pukul 14.30 WIB. Kami dapat laporan terus ke lapangan. Sampai lokasi, pencarian belum ada 10 menit, korban ditemukan,” ujar Pramujo, Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Rembang.

Korban ditemukan sekitar pukul 17.45 WIB. Petugas dari Puskesmas setempat dan polisi tetap melakukan visum terhadap korban dan hasilnya tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan.

“Dari mulut dan hidung mengeluarkan air disertai darah. Namun menurut dokter tanda tersebut identik dengan peristiwa tenggelam di air,” kata Kapolsek Sarang I Made Hartawan.

Setelah divisum, korban diserahkan kepada pihak pengurus pesantren. Rencananya, jenazah korban juga akan langsung diserahterimakan ke pihak keluarga guna dimakamkan.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan