Saat Rembang Dapat KLA, Kekerasan Terhadap Anak Masih Terjadi

Rabu, 24 Juli 2019 | 18:05 WIB

Kabupaten Rembang kembali mendapatkan penghargaan Kabupaten Layak Anak (KLA) dari Kementerian PPA RI pada Selasa (23/7/2019), namun pada waktu yang sama ada kekerasan terhadap anak. Insert foto: Saat korban bullying memberikan keterangan di Polsek Sedan. (Foto: mataairradio.com)

REMBANG, mataairradio.com – Kabupaten Rembang kembali mendapatkan penghargaan Kabupaten Layak Anak (KLA) dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak (Kementerian PPA) Republik Indonesia pada Selasa (23/7/2019) malam di Kota Makassar Sulawesi Selatan.

Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Keluarga Berencana Kabupaten Rembang Sri Wahyuni menyebut Rembang bersama dengan Kota Pekalongan, dan Magelang mendapatkan penghargaan KLA kategori Nindya. Dalam level penghargaan KLA sendiri secara berurutan meliputi kategori Pratama, Madya, Nindya, dan Utama. Sedangkan untuk lingkup Jawa Tengah, kategori Utama didapatkan oleh Kota Surakarta (Solo).

Dirinya menyatakan jika penghargaan ini merupakan kerja keras pihak pemerintah dalam mengupayakan Rembang menjadi kabupaten yang aman dan nyaman bagi perkembangan anak. Selain itu infrastruktur dalam melindungi hak-hak anak sudah dilengkapi seperti membentuk Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) di semua desa.

“Alhamdulillah berkat kerjasama semua pihak, kita mendapatkan kembali KLA secara berturut-turut sejak tahun 2011 lalu, dan untuk tahun 2019 ini kita meningkatkan kategori penghargaan yang awalnya tahun 2018 kategori Madya sekarang kategori Nindya,” ungkap perempuan berkacamata ini.

Di sisi lain Sekretaris Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Rembang Heru Irianto menyatakan sangat ironis jika Rembang mendapatkan penghargaan KLA. Pasalnya diwaktu yang sama (23/7/2019) terjadi kekerasan terhadap anak disalah satu SMP Negeri di Kecamatan Sedan.

Kejadian tersebut berupa penindasan atau intimidasi (bullying) siswa yang lebih senior terhadap adik kelasnya. Kronologisnya, siswa berinisial D (13) dan R (13) meminta uang kepada salah satu siswa baru berinisial N (12). Namun N tidak memberi uang kepada D dan R hingga akhirnya keduanya memukuli korban sampai mengalami trauma.

Sampai Rabu (24/7/2019) siang pihak Komnas PA masih melakukan pendampingan terhadap korban hingga ke pihak Polsek Sedan.

Heru menambahkan jika dirinci beberapa kejadian, dirinya menganggap pemerintah tidak hadir dalam upaya kasus-kasus kekerasan terhadap anak, sebutlah kasus pembuangan bayi oleh salah seorang siswi di Sulang. Kasus pemerkosaan yang terjadi di Ringin Kecamatan Pamotan, Kasus Sendangcoyo, Kasus anak jalanan yang tersandung Narkoba di salah satu SMP Pamotan, dan terbaru kasus pembuangan bayi di Sale yang belum jelas pelakunya.

“Ya kami mengapresiasi Mas, jika Rembang dapat KLA. Namun ironis sekali dalam waktu yang sama terjadi kasus kekerasan terhadap anak. Belum lagi kasus lama yang belum jelas,” ungkapnya.

Heru berharap jika pemerintah jangan hanya bekerja dipermukaan saja, namun harus lihat fakta di lapangan. Adanya KPAD yang sudah terbentuk di desa-desa seharusnya bisa dimanfaatkan untuk membangun iklim yang ramah terhadap anak-anak.

Penulis : Mohammad Siroju Munir
Editor: Mohammad Siroju Munir

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan