Rembang Masuk Zona Merah Kasus Penyakit Cebol

Rabu, 2 Mei 2018 | 18:57 WIB

Kepala Seksi Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Kesehatan pada Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang Sarwoko Mugiono, saat memberikan keterangan ihwal kasus penyakit cebol di Rembang. (Foto : Mohammad Siroju Munir)

REMBANG, mataairradio.com – Kabupaten Rembang dinyatakan masuk zona merah dalam kasus penyakit cebol atau stunting.

Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang mencatat, sepanjang 2017 kemarin, tingkat kasus penyakit cebol di daerah ini mencapai 32 persen dari angka kelahiran.

Padahal ambang batas kasus penyakit cebol ditentukan maksimal 22 persen oleh organisasi kesehatan dunia (WHO).

Menurut Kepala Seksi Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Kesehatan pada Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang Sarwoko Mugiono, kasus penyakit cebol dipengaruhi banyak hal.

“Yang paling utama adalah soal gizi. Agar para ibu memperhatikan gizi dan ASI bagi anaknya pada seribu hari pertama sejak kelahiran,” terangnya, Rabu (2/5/2018) pagi.

Sarwoko menegaskan, penyakit cebol tidak hanya soal tubuh pendek atau kerdil, tetapi juga tentang perkembangan otak.

Menurutnya, dua tahun setelah melahirkan, gizi bayi perlu diperhatikan karena pada masa itu merupakan waktu pertumbuhan otak.

Ia menyatakan, sudah menyosialisasikan gerakan masyarakat hidup sehat (Germas) untuk menekan kasus penyakit cebol.

“Sosialisasi dilakukan di 14 kecamatan, terutama di wilayah timur Rembang seperti Sedan, Kragan, dan Sarang. Sebab, di tiga kecamatan itu, banyak ditemui kasus stunting,” imbuhnya.

Saat ditemui mataairradio, Rabu (2/5/2018) siang, Sarwoko menambahkan, penyakit cebol juga bisa dipengaruhi oleh pernikahan dini.

Menurutnya, dalam pernikahan dini, tubuh ibu masih terlalu muda untuk melahirkan.

 

Penulis: Mohammad Siroju Munir
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan