Rembang Hadapi Kemarau Basah, Waspada Hujan di atas Normal

Rabu, 15 Juni 2016 | 17:26 WIB
Hujan deras mengguyur wilayah Kota Rembang pada Rabu (15/6/2016) siang. Kabupaten Rembang diprediksi menghadapi kemarau basah pada tahun ini. (Foto: Pujianto)

Hujan deras mengguyur wilayah Kota Rembang pada Rabu (15/6/2016) siang. Kabupaten Rembang diprediksi menghadapi kemarau basah pada tahun ini. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jawa Tengah menginformasikan bahwa Kabupaten Rembang menghadapi kemarau basah, sehingga ada kalanya curah hujan berlangsung di atas normal.

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang Suharso mengatakan mendapat edaran dari BMKG mengenai sejumlah wilayah di Indonesia akan terdampak La Nina pada Juni hingga November 2016.

“Di daerah Jawa Tengah masih ada awan. Suhu permukaan air laut masih hangat. Dalam hal seperti itu, hujan masih terasa, dalam kondisi di bawah normal, normal, bahkan kadang di atas normal. Rembang juga,” terangnya kepada reporter mataairradio, Rabu (15/6/2016).

Berdasarkan data prediksi BMKG, peluang La Nina mulai muncul pada periode Juli, Agustus, September 2016, atau disebut periode JAS. Peluang La Nina berintensitas lemah hingga sedang.

Bersamaan dengan fenomena La Nina tersebut, terjadi perubahan kondisi suhu muka laut di bagian barat Sumatera menjadi lebih hangat dari suhu muka laut di pantai timur Afrika.

Suharso juga mengatakan, tanda transisi atau peralihan dari musim hujan ke musim kemarau, sudah tampak, tetapi karena suhu permukaan air laut masih hangat, maka hujan masih akan terjadi.

“Kalau seperti ini, yang perlu kita cermati adalah angin. Yang kedua, kita tetap menjaga situasi, manakala hujan masih terasa sampai dua atau tiga hari, maka daerah bukit waspada longsor,” tandasnya.

BPBD, katanya, sudah membuat surat yang menunggu persetujuan dari Bupati, guna diedarkan ke setiap kecamatan menyangkut peringatan akan terjadinya kemarau basah pada tahun ini.

“Hal ini penting kita informasikan karena kemarau basah ada kaitannya dengan pertanian. Perlu kita konfirmasi dengan dinas pertanian mengenai kemarau basah seperti ini apa yang harus dilakukan petani,” tegasnya.

Dari beragam literasi, La Nina membawa pengaruh positif maupun negatif bagi sektor-sektor ekonomi yang mengandalkan alam. Bagi nelayan, akan meningkatkan tangkapan ikan tuna lantaran hangatnya suhu muka laut.

Namun, bagi para petani garam di Kabupaten Rembang, hal ini justru kurang begitu menguntungkan. Pada sektor pertanian dan perkebunan, akan meningkatkan luas lahan tanam, tetapi juga diwaspadai munculnya serangan hama tanaman pada kondisi tanah yang lembab.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan