Rawan Konflik, Warga Pro Pabrik Semen Dirikan Tenda

Jumat, 30 Desember 2016 | 16:13 WIB
Warga dari sejumlah desa di Kecamatan Gunem mendirikan tenda sebagai simbol perjuangan mereka mendukung beroperasinya pabrik semen milik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk di Kabupaten Rembang, Jumat (30/12/2016). (Foto: Pujianto)

Warga dari sejumlah desa di Kecamatan Gunem mendirikan tenda sebagai simbol perjuangan mereka mendukung beroperasinya pabrik semen milik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk di Kabupaten Rembang, Jumat (30/12/2016). (Foto: Pujianto)

 

BULU, mataairradio.com – Warga dari sejumlah desa di Kecamatan Gunem mendirikan tenda sebagai simbol perjuangan mereka mendukung beroperasinya pabrik semen milik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk di Kabupaten Rembang.

Satu tenda berterpal biru didirikan warga, persis di sebelah selatan daari tenda kelompok warga penolak pabrik semen di kawasan pintu masuk menuju tapak di wilayah Gunung Bokong Desa Kadiwono Kecamatan Bulu.

Tenda yang didirikan pada Jumat (30/12/2016) pagi itu juga tampak dilengkapi dengan spanduk bertuliskan “Laskar Brotoseno”, dan spanduk lain bernada dukungan terhadap pendirian dan operasi pabrik semen milik Negara ini.

Ahmad Akhid, warga Desa Timbrangan menjelaskan, inisiatif mendirikan tenda perjuangan mendukung berdiri dan operasional pabrik semen, karena selama ini yang dikaver oleh media adalah kelompok warga yang kontra pabrik saja.

“Kita tidak menyadari kalau dampak dari tenda temen-temen kontra sampai sedemikian luasnya. Kita pun mendirikan tenda guna menyuarakan kebenaran dukungan warga. Tenda ini berdiri sampai pabrik semen beroperasi,” katanya.

Sarki, warga Desa Pasucen yang ditemui di tenda tersebut mengaku tidak sedang terpancing emosi, sehingga ikut-ikutan mendirikan tenda di dekat yang selama ini dijadikan “markas” kelompok penentang pendirian pabrik semen.

“Kita hanya ingin membuka mata dan telinga Pemerintah bahwa ada aspirasi juga dari warga yang mendukung pabrik semen beroperasi. Yang mendukung dari berbagai kalangan, utamanya petani. Kami memperjuangkan aspirasi,” katanya.

Ia menyebutkan, ada 12 orang dari Pasucen yang akan secara bergiliran berada di tenda perjuangan mendukung pabrik semen, termasuk para perempuan yang akan menyambangi dan berkirim makanan pada setiap siang hari.

“Sementara 12 orang dulu. Kalau keteteran, nanti kita tambah. Teknisnya bergiliran. Tapi kalau malam tidak ada ibu-ibu. Tenda pun sementara cukup satu dulu, tapi bisa saja tambah,” terangnya.

Wahyuningsih, salah seorang ibu rumah tangga berasal dari Desa Pasucen mengaku tidak akan menjadi repot lantaran harus mengirim makan bagi warga pendukung berdiri dan beroperasinya pabrik semen, di tenda perjuangan.

“Nggak repot. Ini menunjukkan semangat kami yang ingin maju. Kami sering disebut terpencil dan primitif. Kami ingin maju dengan mendukung pabrik semen. Soal dengan ibu-ibu yang menentang pabrik, kita tetap akan menyapa,” katanya.

Sementara itu, kelompok warga penentang pabrik semen yang ditemui di tenda perjuangan mereka enggan mengomentari pendirian tenda oleh kelompok pendukung. Mereka bahkan mengaku tidak mengenal warga yang berada di tenda pro.

Kapolres Rembang AKBP Sugiarto menyatakan sudah menerima laporan dari anggota intelijen polisi tentang pendirian tenda perjuangan dari kelompok masyarakat yang pro pabrik semen. Ia mengaku tidak bisa melarangnya karena hak mereka.

Guna menghindari potensi konflik, Kapolres sudah melakukan langkah-langkah pengimbauan, mengingat mereka masih satu Rembang bahkan satu desa. Diharapkan, antarkelompok tidak bergesekan gara-gara penyampaian aspirasi.

“Yang jadi polemik kini itu kan Putusan MA. Kita tunggu saja, 17 Januari nanti, Pak Ganjar akan memutuskan bagaimana. Sambil menunggu, kita tetap lakukan langkah-langkah biar tidak terjadi gesekan,” ujarnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan