Rapid Test di RSUD Rembang Gratis Untuk Pasien Rujukan

Thursday, 11 June 2020 | 20:52 WIB

Ilustrasi. (Foto: merdeka.com)

REMBANG, mataairradio.com – Beberapa wilayah seperti Bali dan Jakarta mewajibkan membawa hasil rapid tes bagi orang yang masuk wilayah tersebut.

Hal itu sebagai persyaratan baik untuk keperluan pekerjaan atau yang lainnya. Terkait persyaratan tersebut banyak warga yang mempertanyakan berapa biaya untuk melakukan rapid-tes.

Nurdin Fahrudi Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan dan Informasi pada RSUD dr. R Soetrasno Rembang saat dihubungi reporter mataairradio.com pada Kamis (11/6/2020) pagi menyatakan, bahwa untuk rapid-tes di RSUD sifatnya tidak berbayar alias gratis, namun hanya untuk pasien rujukan baik dari Puskesmas atau dokter umum.

Disinggung masalah biaya rapid-tes pihaknya menyatakan tidak melayani pemeriksaan rapid-tes mandiri (tanpa rujukan) karena alatnya terbatas.

Pemeriksaan untuk keperluan bepergian atau masuk suatu wilayah seperti Bali dan jakarta dirinya menganjurkan supaya datang ke Poliklinik khusus atau rumah sakit swasta.

“Kalau kita pemeriksaan rapid-tes sifatnya tidak berbayar, karena alat juga di droping dari pemerintah, dan sangat terbatas sehingga harus ada skala prioritas,” ungkapnya.

Nurdin menambahkan jika pasien terindikasi terpapar maka pemeriksaan dilanjutkan dengan tes swab dan pasien harus diisolasi.

Untuk tes swab sendiri hasil pemeriksaan bisa diketahui kurang lebih sekitar 4-6 hari. Karena pemeriksaan di laboratorium RSUP Kariadi Semarang ternyata banyak yang antri dari berbagai daerah, sehingga waktu yang diperlukan lebih lama.

“Sampel yang kita kirim cepat-cepat juga sampai sana antri, ya sekitar 4-6 hari lah kita bisa tahu hasil swabnya,” pungkasnya.

Abdul Wahab warga Desa Pamotan Kecamatan Pamotan mengaku mengeluarkan biaya sebesar Rp400 ribu untuk rapid tes di salah seorang dokter.

Dirinya harus mendapatkan surat tersebut untuk persyaratan masuk ke Bali karena tuntutan pekerjaan. Pasalnya jika tidak segera ke Bali maka dirinya akan terus menganggur sebab pekerjaannya sebagai pengepul besi tua ada di Bali.

“Kalau gak bawa hasil rapid-tes nanti malah disuruh balik saat di Pelabuhan Ketapang, malah repot. padahal pekerjaan saya kan ada di Bali,” tegasnya.

Penulis : Mohammmad Siroju Munir
Editor: Mukhammad Fadlil




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan