Rampas Trotoar, Relokasi PKL Lasem Diperlukan

Jumat, 12 Januari 2018 | 18:50 WIB

Sejumlah warga merasa terganggu oleh keberadaan pedagang kaki lima (PKL) di sebelah timur perempatan Masjid Besar Lasem. (Foto: Mohammad Siroju Munir)

 

LASEM, mataairradio.com – Sejumlah warga merasa terganggu oleh keberadaan pedagang kaki lima (PKL) di sebelah timur perempatan Masjid Besar Lasem.

Trotoar yang seharusnya diperuntukkan bagi pejalan kaki terampas oleh bangunan semi permanen berupa warung-warung.

Pejalan kaki menjadi melintas di atas aspal jalan, sehingga ketika jalanan ramai, keselamatan pejalan kaki pun terancam.

Ridowi, warga Desa Soditan Kecamatan Lasem berharap kepada Pemerintah agar menyediakan tempat relokasi yang layak bagi PKL.

“Selain agar pejalan kaki memperoleh haknya, relokasi juga agar para PKL tetap bisa mencari nafkah,” katanya, Jumat (12/1/2018).

Kepala Bidang Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat dan Penegakan Perda pada Satpol PP Kabupaten Rembang Heru Susilo menyatakan, persoalan PKL di trotoar Lasem telah lama menjadi perhatian.

“Penertiban terhadap para PKL itu sudah beberapa kali dilakukan. Sebagian dari mereka telah berbenah,” katanya.

Bangunan yang semula permanen, telah dibenahi menjadi semi permanen. Namun, PKL lainnya masih membandel.

“Kami sedang menjalin komunikasi melalui rapat dengan Pemerintah Kecamatan Lasem, untuk mengambil langkah penertiban berikutnya,” tegasnya.

Heru menambahkan, pemanfaatan trotoar oleh PKL mengakibatkan kerusakan tanaman dan mengganggu keindahan pemandangan.

Ia juga sedang mempertimbangkan menjeratkan pidana ringan sebagai efek jera bagi PKL yang “ngotot” menguasai trotoar.

 

Penulis: Mohammad Siroju Munir
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan