PWI Tunjuk Saksi Ahli Kasus Kekerasan terhadap Wartawan

Senin, 14 November 2016 | 16:43 WIB
Situasi depan UGD RSUD dr R Soetrasno Rembang dipadati oleh sekitar 50 orang karyawan PLTU Sluke sejak pukul 19.00 hingga pukul 22.00 WIB. (Foto: mataairradio.com)

Situasi depan UGD RSUD dr R Soetrasno Rembang dipadati oleh sekitar 50 orang karyawan PLTU Sluke sejak pukul 19.00 hingga pukul 22.00 WIB. (Foto: mataairradio.com)

 

REMBANG, mataairradio.com – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah menunjuk seorang saksi ahli, terkait proses hukum kasus dugaan kekerasan oknum pekerja PLTU PJB Sluke terhadap wartawan, saat meliput korban kecelakaan kerja.

Ketua Lembaga Advokasi Wartawan PWI Jawa Tengah, Zaenal Abidin Petir, Senin (14/11/2016) siang, menyatakan memilih Sucipto, mantan Pemimpin Redaksi Koran Wawasan, sebagai saksi ahli.

Menurutnya, Sucipto dianggap sebagai sosok wartawan senior di Jawa Tengah yang memahami Undang-Undang Pers serta memiliki integritas dan secara kebetulan beberapa kali pernah menjadi saksi ahli dalam kasus kekerasan dengan korban wartawan.

“Beberapa waktu lalu kami diminta oleh penyidik Reskrim Polres Rembang untuk menyiapkan saksi ahli. Sekarang saksi ahli sudah ditetapkan, tinggal bagaimana komitmen Polres Rembang untuk cepat menindaklanjuti dengan meminta keterangan dari yang bersangkutan,” katanya.

Ia menjelaskan, keterangan saksi ahli yang merupakan pakar kewartawanan diperlukan guna lebih memperjelas masalah, bahwa siapapun tidak boleh menghalangi wartawan saat proses peliputan.

“Apalagi sampai mengintimidasi guna menutup akses informasi. Setelah pemeriksaan saksi ahli, harapannya penyidik menjadi lebih mantap menaikkan status hukum ke tingkat penyidikan, sekaligus menetapkan tersangka pelakunya,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Rembang, Iptu Ibnu Suka berjanji akan segera menyampaikan informasi tertulis tentang perkembangan penanganan kasus.

“Soal pemeriksaan saksi ahli, kami akan mengonfirmasi lagi PWI Jawa Tengah. Soal perkembangan kasus, secepatnya kita akan menyampaikan kepada teman-teman media,” ujarnya kepada awak media.

Empat orang pekerja PLTU Sluke menjadi korban kecelakaan kerja, dua di antaranya meregang nyawa. Saat korban menjalani perawatan di RSUD dr R Soetrasno Rembang, 18 Agustus 2016 lalu, para pegawai PLTU melarang wartawan meliput peristiwa tersebut.

Bahkan ponsel milik salah satu wartawan sempat direbut dan dihapus sejumlah file fotonya. Wartawan diancam akan dikeroyok dan dibunuh, ketika kepergok mengambil gambar.

Kejadian itu akhirnya dilaporkan ke Polres Rembang. Meskipun berulang kali diajak berdamai melalui jalur kekeluargaan, namun mayoritas wartawan di Kabupaten Rembang tetap menempuh ranah hukum.

Di tengah perjalanan, dari enam orang saksi wartawan, dua wartawan memilih mencabut laporan, yakni Wisnu Aji dari Radar Kudus Jawa Pos dan Heru Budi Santoso dari Radio Citra Bahari FM.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan