PWI Jateng Kecewa Pelaku Kekerasan Divonis Percobaan

Selasa, 1 Agustus 2017 | 18:10 WIB

Ketua PWI Jateng Amir Machmud dalam sebuah kesempatan wawancara cegat di Semarang pada Jumat (21/7/2017). (Foto: Mukhammad Fadlil)

 

REMBANG, mataairradio.com – Pihak PWI Provinsi Jawa Tengah menyatakan kecewa atas vonis majelis hakim yang menangani kasus kekerasan yang dilakukan oleh Suryono, pekerja PLTU Sluke warga Desa Grawan Kecamatan Sumber.

Ketua PWI Jateng Amir Machmud mengatakan vonis tiga bulan penjara dengan masa percobaan dinilai tidak akan memberikan efek jera kepada pelaku yang terbukti menghalang-halangi tugas dengan mengintimidasi dan merampas peralatan tugas wartawan.

“Efek jera terhadap siapa pun yang berpotensi untuk bertindak serupa juga tidak akan tercapai, karena vonis percobaan itu memosisikan wartawan seolah-olah bukan sebagai elemen yang setara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” katanya.

Amir juga menyatakan bahwa rasa keadilan wartawan terusik oleh vonis tersebut. Apalagi, selama ini, kasus kekerasan terhadap wartawan lebih banyak diselesaikan lewat jalan damai.

“PWI Jateng berusaha menegakkan peraturan perundang-undangan dalam hal ini Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers,” terangnya.

Ia menegaskan bahwa menghalang-halangi tugas wartawan adalah mengganggu kebebasan berpendapat yang diamanatkan oleh konstitusi, sehingga mengintimidasi wartawan dalam menjalani tugas profesinya adalah melecehkan konstitusi.

Ketua Majelis Hakim Antyo Harri Susetyo dalam amar putusannya menjelaskan, upaya penghalangan kerja wartawan dengan kata-kata ancaman merupakan tindakan massa, sehingga terdakwa dipandang tidak terlibat.

“Terdakwa tidak terbukti menghapus file-file foto hasil liputan, tetapi hanya membawa HP milik wartawan Radar Kudus Jawa Pos, Wisnu Aji,” katanya saat persidangan di Ruang Cakra Pengadilan Negeri Rembang, Senin (31/7/2017).

Jaksa penuntut umum (JPU) perkara ini, Muhammad Shalahuddin menyatakan memiliki waktu tujuh hari untuk mempertimbangkan upaya banding atas putusan hakim.

“Kita masih punya waktu tujuh hari, tunggu perkembangan ya. Tapi kemungkinan besar arahnya banding,” katanya didampingi jaksa lain, Wakhid Adrian.

Penasehat hukum terdakwa, Darmawan Budiharto menyatakan pikir-pikir atas vonis hakim. Ia menyatakan masih berharap majelis hakim membebaskan terdakwanya karena dakwaan jaksa tak terbukti.

Kasus tersebut bermula dari kecelakaan kerja di PLTU Sluke pada 18 Agustus 2016 lalu, yang mengakibatkan dua orang tewas dan dua menderita luka bakar.

Saat korban dirawat di RSUD dr R Soetrasno Rembang, wartawan yang akan meliput diancam akan dikeroyok dan dibunuh. Foto hasil liputan seorang wartawan yang diambil melalui telepon selular berkamera, turut dihapus.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan