Puluhan Warga Papua di Rembang Deklarasi Damai

Selasa, 3 September 2019 | 21:34 WIB
Bupati Rembang Abdul Hafidz dan Wakil Bupati Rembang Bayu Andriyanto berserta pejabat lainnya menari bersama dengan siswa-siswi Papua dengan diiringan musik, pada Selasa (3/9/2019) pagi di Halaman Kantor Bupati setempat. (Foto:mataairradio.com)

REMBANG, mataairradio.com – 45 warga asal Papua di Kabupaten Rembang mendeklarasikan bahwa warga Papua menjunjung tinggi nilai perdamaian, pada Selasa (3/9/2019) pagi, di Kompleks Kantor Bupati setempat.

Aksi tersebut sebagai bentuk kampanye perdamaian atas terjadinya kerusuhan di beberapa daerah di Papua. Kerusuhan tersebut berawal dari tindakan rasisme dan persekusi yang terjadi di Provinsi Surabaya beberapa waktu lalu.

Sebanyak 31 pelajar asli Papua bertemu dengan Bupati Rembang H. Abdul Hafidz, Wakil Bupati H.Bayu Andriyanto dan sejumlah Forkopimda lainnya di kantor Bupati Rembang, Selasa (3/9/2019).

Selain deklarasi damai, kedatangan mereka di Kantor Bupati Rembang juga untuk bersilaturahmi dengan para pejabat di daerah ini. Bupati Abdul Hafidz merasa bersyukur bisa berkumpul dengan Warga Papua.

Bupati Rembang menyayangkan atas terjadinya kerusuhan di beberapa daerah di Papua yang menimbulkan kerusakan berbagai gedung maupun fasilitas publik itu.

“Warga Papua yang sedang tinggal di Rembang serta Warga Rembang supaya jangan terprovokasi. Junjung tinggi perdamaian di Kabupaten Rembang,” harapnya.

Euis Ayomi salah satu warga asal Kota Serui-Papua mengaku, sambutan yang diberikan warga Rembang kepada Warga Papua sangat baik.

Menurutnya, banyak hal yang ia pelajari selama tinggal di Rembang, salah satunya adalah tentang saling mengharagai antar masyarakat.

Dia mengaku, sudah tinggal di Rembang sejak Ahad (25/8/2109) atau sejak sembailan hari yang lalu.

“Kunjungan saya ke Rembang dalam rangka menyelesaikan program praktik kerja lapangan (PKL) yang diadakan oleh sekolahan,” terangnya.

Dalam kegiatan itu, Bupati Rembang Abdul Hafidz dan Wakil Bupati Rembang Bayu Andriyanto berserta pejabat lainnya menari bersama dengan siswa-siswi Papua dengan diiringan musik.

Tarian yang dibawakan yaitu Tari Yospan yang merupakan jenis tari kontemporer asal Papua. Tari tersebut menggambarkan tentang pergaulan atau persahabatan pada kaum muda-mudi.

Sementara itu, total ada 45 Warga Papua yang saat ini sedang tinggal di Rembang. Perinciannya 13 orang sedang menuntut ilmu di pesantren, 31 merupakan siswa-siswi SMK Negeri Kehutanan Manokwari yang sedang melaksanakan PKL, dan satu orang Papua yang menikah dengan warga Kecamatan Lasem.

Penulis: Mukhammad Fadlil
Editor: Mukhammad Fadlil

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan