Puluhan Nelayan Cantrang Melunak Teken Pakta Integritas

Kamis, 19 Januari 2017 | 16:24 WIB

Sejumlah nelayan cantrang tampak mengakses layanan di Kantor Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tasikagung setelah meneken pakta integritas. (Foto: Mukhammad Fadlil)

 

REMBANG, mataairradio.com – Puluhan nelayan cantrang di Kabupaten Rembang melunak. Sebanyak 38 nelayan tercatat mau menandatangani pakta integritas sebagai syarat mengurus surat izin penangkapan ikan dan surat laik operasi.

“Sementara yang sudah kami layani, hari ini dan kemarin sudah 38 nelayan yang sudah menandatangani pakta integritas,” kata Kepala Kantor Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tasikagung Kabupaten Rembang Sukoco, Kamis (19/1/2017).

Pakta integritas adalah surat pernyataan dari nelayan cantrang yang siap mengganti alat tangkap dari cantrang ke alat tangkap lain yang legal di kurun waktu enam bulan masa perpanjangan atau berakhir 30 Juni 2017.

“Soal surat kepemilikan kapal yang masih atas nama pemilik lama, sedangkan kapal sudah berganti kepemilikan, pakta integritasnya tetap pakai pemilik lama. Rekomendasi dari kami untuk mengurus SIPI dan SLO cukup dua jam selesai,” katanya.

Mengenai lama waktu hingga terbitnya SIPI dan SLO, Sukoco mengaku tidak paham secara persis. Sebab setelah turun rekomendasi dari pihak PPP, proses selanjutnya berada di tangan PTSP (Pelayanan Terpadu Satu Pintu) Jawa Tengah.

“Kabarnya ada yang sampai dua minggu. Ini yang perlu didorong agar izin terbit lebih cepat. Teman-teman media mungkin bisa bantu dorong dan memantau perkembangannya,” katanya yang menyebut nelayan cantrang mulai lunak-lunak kaku.

Sementara itu, Wakil Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Rembang Gunadi mengatakan, nelayan cantrang melunak karena terpaksa, mengingat mereka ingin segera bisa melaut kembali seiring kebutuhan hidup.

“Nelayan agak terpaksa menandatangani pakta integritas. Banyak nelayan cantrang yang curhat ke kami. Mereka rata-rata bilang daripada tidak diperpanjang (larangan cantrang) dan nggak punya penghasilan sama sekali sebagai bekal Lebaran mendatang,” katanya.

Menurutnya nelayan tetap menginginkan agar jaring cantrang dilegalkan. Pasalnya, kalau pun berganti ke alat lain, diyakini tidak akan produktif karena mereka pernah punya pengalaman pahit.

“Nelayan pernah pakai alat lain selain cantrang. Hasilnya minim. Nggak sebanding dengan biaya perbekalan yang dikeluarkan. Nelayan beralih ke cantrang, dulunya ya karena hasil melaut yang minim itu,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan