Provokator Intimidasi Wartawan Dituntut Ditangkap dan Diadili

Monday, 22 August 2016 | 23:27 WIB
Para pewarta menggelar aksi guna mengecam insiden intimidasi terhadap jurnalis yang berlangsung di depan Kantor PLN Rembang, Senin (22/8/2016) siang. (Foto: Pujianto)

Para pewarta menggelar aksi guna mengecam insiden intimidasi terhadap jurnalis yang berlangsung di depan Kantor PLN Rembang, Senin (22/8/2016) siang. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Provokator aksi intimidasi oleh pegawai PLTU Pembangkit Jawa Bali terhadap wartawan saat peliputan di RSUD dr R Soetrasno Rembang, Kamis (18/8/2016) malam lalu dituntut untuk ditangkap.

Puluhan wartawan dari berbagai media yang terwadahi dalam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Rembang dan IJTI (Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia ) Muria Raya juga menuntut provokator intimidasi diadili.

Tuntutan tersebut terungkap saat para pewarta menggelar aksi guna mengecam insiden intimidasi terhadap jurnalis yang berlangsung di depan Kantor PLN Rembang, Senin (22/8/2016) siang.

Dengan membawa beragam poster bernadakan kecaman atas kekerasan terhadap pekerja pers, puluhan wartawan berjalan kaki dari kawasan lapangan Rumbut Malang menuju Kantor PLN Rembang di Jalan Pemuda.

Mereka juga memekikkan yel-yel menolak kekerasan terhadap pekerja pers. Ketua IJTI Muria Raya, Indra Winardi menjelaskan aksi mereka itu sebagai bentuk solidaritas atas insiden yang dialami wartawan di Rembang.

Pihaknya meminta agar provokator insiden intimidasi di RSUD Rembang diproses secara hukum. Sebab, tindakan arogansi mereka dianggap telah melecehkan profesi wartawan yang nyata-nyata dilindungi oleh undang-undang.

“Kami menyayangkan insiden intimidasi yang dilakukan oleh karyawan PLTU kepada wartawan saat meliput di RSUD Rembang. Tindakan itu mencerminkan arogansi dan tidak menghargai profesi wartawan,” katanya.

Indra juga meminta kepada Polres Rembang untuk mengusut tuntas insiden intimidasi tersebut karena terindikasi kuat melanggar undang-undang.

Apalagi, dalam insiden tersebut ada ponsel berkamera milik seorang wartawan yang ditahan dan gambar di dalamnya dihapus oleh karyawan PLTU.

General Manager (GM) PLTU PJB, Yudhi Bhagaskara yang menemui massa menyebutkan bahwa insiden intimidasi kepada wartawan di RSUD Rembang bukan faktor kesengajaan.

Ia menganggap insiden tersebut hanya reaksi spontan dari karyawan PLTU yang bersimpati kepada korban kecelakaan kerja letupan uap panas.

Karyawan PLTU, menurutnya, secara solidaritas berusaha melindungi korban uap panas saat dievakuasi ke rumah sakit.

“Kami mohon maaf atas insiden intimidasi wartawan di RSUD Rembang. Hal itu bukan kesengajaan, melainkan sebagai respon spontan rekan-rekan PLTU yang saat itu menjenguk korban,” kilahnya.

Penjelasan dari GM PLTU itu tidak memuaskan puluhan wartawan. Para jurnalis meyakini insiden intimidasi di RSUD Rembang sebagai sebuah tindakan terorganisir lantaran dilakukan secara kompak.

Sementara itu, meskipun sempat ada dialog antara wartawan dan managemen PLTU di dalam ruang Kantor PLN Rembang, namun tidak ada hasil yang disepakati secara tertulis.

Wartawan masih kukuh menuntut agar provokator aksi intimidasi diproses secara hukum dan dihadirkan guna meminta maaf secara langsung kepada para jurnalis.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan