Polisi Rencanakan Penyelidikan Pasar Wonokerto

Kamis, 17 Mei 2018 | 17:50 WIB

Inspeksi Komisi C DPRD Kabupaten Rembang di Pasar Wonokerto, Rabu (16/5/2018). (Foto: mataairradio.com)

 

REMBANG, mataairradio.com – Pihak Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Kepolisian Resor Rembang merencanakan penyelidikan atas pembangunan Pasar Wonokerto Sale.

Kasat Reskrim Polres Rembang AKP Kurniawan Daeli mengungkapkan, pihaknya sudah melakukan pengumpulan bahan dan keterangan terkait pasar senilai Rp5 miliar lebih.

Menurutnya, penyelidikan ini terkait apakah ada penyimpangan dalam pembangunan pasar rakyat tersebut atau tidak, mengingat saat ini pembangunan masih masa pemeliharaan.

“Kita sudah melakukan full bucket untuk merencanakan penyelidikan terkait apakah ada penyimpangan dalam pembangunan pasar rakyat Desa Wonokerto tersebut, mengingat saat ini pembangunan tersebut masih dalam masa pemeliharaan. (Sejak) Sudah beberapa hari ini. Masih proses saja,” ungkapnya.

Wakil Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Rembang Puji Santoso menyatakan, pihaknya sudah melakukan inspeksi ke Pasar Wonokerto, Rabu (16/5/2018) kemarin.

“Kalau saya melihat, pasar yang dibiayai dengan dana APBN ini jauh dari layak,” katanya.

Ia menyebutkan, beberapa bagian pasar dikerjakan secara asal seperti saluran air. Bahkan tempat untuk parkir masih berupa tanah.

“Bagian dalam pasar juga lebih mengesankan kalau pasar itu adalah pasar daging. Keramiknya seperti keramik dinding jadi warnanya mengkilat,” katanya.

Mengenai full bucket yang sudah dilakukan oleh polisi sejak beberapa hari ini dan kini masih proses, Puji berpendapat bisa saja dilakukan.

“Kalau ada diindikasikan ada penyimpangan, ya bisa (disediliki polisi),” katanya.

Meskipun yang diketahuinya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sudah turun melakukan audit. Hanya saja, laporan hasil pemeriksaan, belum didapatkannya.

“Sepertinya juga sudah diperiksa BPK, tapi saya belum dapat LHP-nya,” tegasnya.

Ia juga menyesalkan pengerjaan proyek APBN yang terkesan asal, bahkan dari informasi yang diperolehnya, saat lelang, hanya ada satu penawar.

Proyek Pasar Sale dibiayai oleh APBN 2017 dengan pos dana Tugas Pembantuan.

Semula, rencana anggaran belanja sebesar Rp5,6 miliar. Namun harga perkiraan sendiri ditentukan Rp5,2 miliar.

Setelah dilelang, ada penawaran sebesar Rp5,08 miliar.

Hanya saja setelah berjalan, penyedia jasa proyek Pasar Sale diketahui bermasalah karena masuk daftar hitam. Proyek pun dilakukan putus kontrak.

Rekanan PT Graha Yasa Anugrah tetap dibayar sebesar Rp1,7 miliar. Pokja lalu menunjuk rekanan lain, yaitu PT Bokama Reka Jaya.

Penyedia jasa kedua ini mengerjakan proyek Pasar Sale dengan nilai kontrak Rp3,15 miliar.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan