Polisi Pastikan Kematian Pedagang Emas Bukan Karena Disetrum

Senin, 30 Mei 2016 | 16:24 WIB
Petugas polisi dan tim medis mengevakuasi mayat korban perampokan terhadap pedagang emas di Desa Maguan Kecamatan Kaliori, Sarno, pada Minggu (29/5/2016) siang kemarin. (Foto: Pujianto)

Petugas polisi dan tim medis mengevakuasi mayat korban perampokan terhadap pedagang emas di Desa Maguan Kecamatan Kaliori, Sarno, pada Minggu (29/5/2016) siang kemarin. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Pihak Kepolisian Resor Rembang hampir memastikan bahwa penyebab kematian pedagang emas korban pencurian disertai kekerasan hingga akhirnya meninggal dunia, bukan karena disengat listrik oleh pelaku seperti rumor yang berkembang di masyarakat.

Kepala Satuan Reserse dan Kriminal (Satreskrim) Polres Rembang AKP Eko Adi Pramono, Senin (30/5/2016), mengungkapkan, berdasar hasil otopsi yang dilakukan tim dokter polisi dari Polda Jawa Tengah, pedagang emas bernama Sarno (54) meninggal akibat benturan benda keras.

“Bukan hantaman benda keras, tetapi akibat benturan kepala bagian belakang terhadap benda keras, sehingga terjadi pendarahan pada otak kecil korban. Tidak ada istilah disetrum dan untuk lebih jelasnya, kita akan mendapat jawaban secara resmi dan tertulis dari tim dokter polisi,” bebernya.

Menurutnya, kabel setrika yang ditemukan di dekat korban saat pertama kali ditemukan, merupakan benda yang sempat dipakai oleh pelaku untuk mengikat tangan Sarno agar tidak bisa bergerak, meski juga sudah diikat lakban.

Ia menyebutkan, jenazah Sarno, diotopsi selama sekitar 1,5 jam pada petang harinya mulai pukul 18.30 WIB, di RSUD dr R Soetrasno Rembang oleh tim forensik dari Kepolisian Daerah Jawa Tengah yang langsung meluncur setelah dikontak oleh pihak kepolisian resor setempat.

“Selesai kami otopsi, jenazah korban kami serahkan kepada pihak keluarga. Sekitar pukul 21.00 WIB dimakamkan di tempat pemakaman umum Desa Kuniran (Kecamatan Batangan Kabupaten Pati) oleh pihak keluarga,” terangnya.

Saat pertama kali ditemukan, Sarno tergeletak di lantai keramik pada salah satu kamar rumahnya di Desa Maguan Kecamatan Kaliori, tetapi tidak di kamar utama, dalam keadaan telanjang dada, bercelana pendek cokelat muda, terikat lakban pada kaki dan tangannya, serta dilakban mulutnya.

Sarno sudah tidak bernyawa dan ditemukan ceceran darah di dalam kamar tersebut. Sementara Damisih, istrinya, tergolek pingsan di kasur kamar yang sama, dengan kondisi kaki, tangan, dan mulut dilakban, serta terdapat luka memar di kepalanya.

Brankas berisi uang dan perhiasan yang konon bernilai hingga satu miliar rupiah, sudah dikuras pelaku yang diduga berjumlah beberapa atau lebih dari satu orang. Selain yang dibawa para pelaku, saat olah kejadian polisi mendapati ceceran perhiasan emas di lantai rumah tersebut.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan