Polisi Beber Hasil Operasi mulai Narkoba hingga Judi

Kamis, 21 Desember 2017 | 18:15 WIB

Kapolres Rembang AKBP Pungky Bhuana Santoso mengatakan, pihaknya mengamankan dua pelaku penyalahgunaan narkoba, 22 pasangan prostitusi, 27 preman, dan tiga pejudi dari operasi cipta kondisi. (Foto: Mohammad Siroju Munir)

 

REMBANG, mataairradio.com – Kepolisian Resor Rembang membeber hasil operasi cipta kondisi menjelang Natal dan Tahun Baru di Mapolres setempat, Kamis (21/12/2017) siang.

Kapolres Rembang AKBP Pungky Bhuana Santoso mengatakan, pihaknya mengamankan dua pelaku penyalahgunaan narkoba, 22 pasangan prostitusi, 27 preman, dan tiga pejudi dari operasi tersebut.

Dari operasi itu juga diamankan barang bukti berupa 0,9 gram sabu-sabu, 320 botol minuman beralkohol tinggi, alat dan uang hasil berjudi, serta Ponsel.

“Kami berharap operasi ini membuat suasana aman jelang Natal dan Tahun Baru,” katanya.

Kapolres juga mengatakan, pihaknya kini menggelar Operasi Lilin. Dimulai Kamis 21 Desember ini hingga 2 Januari 2018.

“Sasarannya, menjaga keamanan pada saat Natal dan Tahun Baru,” katanya.

Selain akan bertindak represif terhadap para pelaku kejahatan, di operasi ini, polisi akan fokus mewujudkan tidak adanya kecelakaan lalu lintas yang menonjol, tidak ada premanisme, dan penyalahgunaan narkoba.

“Kami juga bertekad untuk tidak ada aksi teror dan perusakan gereja, serta tidak ada kecelakaan di laut,” katanya.

Selain gereja, menurutnya, beberapa titik seperti Alun-alun dan objek wisata akan mendapat pengamanan ekstra.

“Sebab, masyarakat di perdesaan akan bergerak ke kota untuk merayakan tahun baru, dan berlibur ke objek wisata,” katanya.

Sementara itu, pada Operasi Lilin 2017, pihak kepolisian menerjunkan sebanyak 202 personil.

 

Penulis: Mohammad Siroju Munir
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan